Berlemah lembutlah…
Pagi hari dengan awan putih yang menyelimuti..
Jakarta | 30 Januari 2006
as. nuryaqin
Bismillaahirrohmannirrohiim...
Kawanku, kabar baikkah yang diperoleh? Ana mencoba untuk
senantiasa mendoakan antum semua, moga kelancaran dan kemudahan dapat
diperoleh...,Shalawat dan salam senantiasa tercurah pada baginda Rosululloh
saw.
”...Kalau memang hak dan tujuannya, sabar dan kasih sayang strateginya...”
Doa dan Dzikir, H.M. Arifin Ilham.
Nah! Ternyata itu kuncinya ketika kita berusaha untuk
menggapai sesuatu, coba kita tengok satu ayat ini :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ
اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ
حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246].
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (ali-Imron
: 159)
Saudaraku, itu hanya selintas begitu
saja, sehingga ketika kita harus berjumpa dan ingin menyampaikan ’ilmu maka
konsepnya adalah lemah lembut, dan ingat itu adalah rahmat Alloh Tabarok ta’ala, bukan dibuat-buat
berlemah lembut, dikemas agar bicaranya baik, membungkukkan badan ketika jumpa.
Bukan..bukan itu. Ini lahir karena kekokohan iman, ini lahir karena Alloh
memang mencintai dirinya, sehingga sifat kelembutan menjadi ’pakaian’
sehari-harinya. Kelembutan menjadi pancaran cahaya imannya..emm. (red.
Baca yah!.. Tulisan sebelumnya tentang cahaya imanpun memiliki takarannya).
Kalau nda demikian, maka larilah mereka dari diri kita. Mereka merasa jauh
dengan diri kita. Setelah itu maka maafkan, do’akan, dan sering-seringlah ’ngobrol’ bersama mereka, mereka ingin didengar, mereka ingin
diperhatikan, mereka ingin berbagi.
Coba sedikit
saja, kita pakai teori himpunan, kalo ada elemen/anggota yang seragam dan sama,
maka dia dalam 1 (satu) himpunan kan? Terus bagaimana bila hati dan pikiran
sudah menjadi satu karena kita berusaha untuk menyelami ’kehidupan’ mereka –masalahnya,
cara belajarnya (bagi guru), cara kerja (bagi atasan), bagaimana sifatnya (bagi
seorang teman), apa kesenangannya dan keinginannya (bagi seorang suami terhadap
istrinya), apa kegemarannya (bagi seorang Abi), apa karakternya (bagi seorang
istri)..maka kenalilah!!. Subhanalloh...Allohlah nanti yang mengikatnya.
Berikutnya baru..bila ikhtiar kita sudah dilakukan, tangan sudah lelah
mengepal, kaki sudah payah melangkah, mata sudah redup memandang...maka
serahkan semua kepada Alloh Tabarok ta’ala, sebagai bukti tawakal
kita.
Saudaraku...jagalah
tetap imanmu agar pancaran cahaya Alloh tampakkan dalam hatimu. Ingatlah ucapan
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, ”Siapa saja yang hatinya
terbuka menerima Islam, yakni lapang dan luas menerimanya, maka akan disinari
dengan cahaya iman dan akan hidup dengan cahaya keyakinan. Jiwanya akan tenang,
suka kepada amal kebajikan dan mudah melakukannya. Ia akan merasakan
kelezatannya dan tidak merasa keberatan sedikitpun”
Saudaraku,
InsyaAlloh kita sambung lagi pada tulisan berikutnya, saya masih ada utang
untuk menyelasaikan tulisan perihal penyungkur hati.., saya mau bergegas
menjemput karuniaNya. Hari ini ada pengenalan perusahaan pada karyawan baru,
jadi jangan sampai terlambat. Emm..
Syukron...Jaga
iman dan tilawahmu..
Wallohu’alam
Alhamdulillaahirobbil’aalamiin