‘Rumah Cinta’
ada disini…
Diiringi
kicauan burung, hujanpun gerimis
Yaa Robbi
jadikan cita dan harap ini berwujud...
Jakarta |
07-03-2007
as. nuryaqin
Bismillah..
Alhamdulillah, bagaimana kabarnya Saudaraku?
Moga sehatlah diperoleh, keni’matan Iman dan Islam
menjadi bahasa kita keseharian, Yaa Robbi jadikan kami menjadi ahli syukur
pada-Mu. Sampaikan salam pula pada Rosululloh teladan kami,
sampai kepada kita semua..
Ternyata kerinduan itu senantiasa tiba, meskipun
tidak diundang..
Saudaraku, kata ‘Rumah Cinta’ saya peroleh dari majalah
Hidayatullah dalam kolom ‘Ibroh. Mas Abdurrahman!, saya minta ijin yah
mengambil katanya...
Kenapa ini menjadi menarik? Seperti yang lain, sesuatu
yang diharap, biasanya sesuatu yang terbaik ingin didapat, sesuatu yang didamba
adalah cita-cita yang hendak diraih. Inipun tidak berbeda...menghadirkan Rumah
Cinta kedepan..Emm..
Memang untuk mewujudkannya, mesti dilalui dengan ikhtiar
yang sungguh, mulai dari niat yang hanif (lurus), memilih pasangan yang terbaik,
ta’aruf yang visioner, khitbah sampai pada ’akad. Itu adalah ikhtiar yang berat
untuk dilalui, kenapa? karena itu adalah usaha awal menuju tujuan yang hakiki
pertemuan di Surga atas RidhoNya bersama dengan keluarga..duh pinginnya. InsyaAlloh...
Awal yang baik akan memberikan jalan baik pula kedepan, Bila dimulai dengan hal
yang tidak baik, maka khawatir tak baik pula diperoleh saat perjalanan hendak
dikayuh.
Saudaraku..persiapkan perbekalan dengan baik,
niat,’ilmu,’amal tentunya diantara itu semua, hanya taqwa yang menjadi
perbekalan utama, setelah perbekalan lain tidak mampu lagi membantu, karena itulah
sebaik-baiknya bekal, coba :
... وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى...
Berbekallah, dan sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa (Al-Baqoroh: 197)
Saudaraku, sebuah harapan telah lahir dalam serambi Rumah Cinta :
Rumah Cinta :
- Rumah yang
memiliki pondasi, dengan landasan dien, tiangnya adalah
keteladanan, dindingnya adalah lirihan do’a, atapnya itu adalah hubb-Cinta,
Jendelanya adalah saling memahami, sering bercengkrama, pintunya adalah
Sabar dan Syukur, pagarnya adalah jihad dan ikhtiar.
- Rumah yang
menjadi madrasah, tempat didalamnya gemuruh senandung Al-Qur’an
dilantunkan, dzikir dan sholat menyelimuti suasana keluarga. Rumah yang
dilandasi dengan ’ilmu dan pemahaman. Serta dizakatinya dengan ber’amal. ”Barangsiapa
yang memuliakan Al-Qur’an maka Alloh akan memuliakannya”
- Rumah yang
senantiasa penghuninya saling berbagi dan mengisi serta mengasah diri
untuk menjadi mu’min yang sejati. Rumah dengan iringan perjuangan saling
membangun dan menutupi kekurangan. Karena perjuangan itu adalah bekal
pengokoh diantaranya.
- Rumah tempat
saling menasehati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. (Al-’Ashr).
- Bacaan
dominan di rumah
itu adalah bacaan yang meninggikan asma Alloh, tidak ada yang saling
umpatan, saling dengki, kata-kata kotor, keluh kesah, nada sombong dan
bangga diri. Kenapa? Karena mereka telah menjadi kelurganya Alloh.
- Dentingan
gelas setiap hari menyapa, karena rumahnya selalu didatangi tamu untuk
dijamu.
- Rumah yang
dihuni oleh seorang suami yang ta’at beragama, pintar dalam memandu
biduknya keluarga, dia seorang qowwam sejati, yang membela bila
keluarganya terganggu, menganyomi dengan untaian kasih sayang. Yang
membawa semua ’awaknya’ menuju Jannah-Nya. Sehingga yang ia harapkan
adalah pertemuannya kembali di surga Nya kelak. Amin..Yaa Robb!!
- Rumah yang
berdiri dengan senyuman seorang isteri yang sholehah, penenang jiwa, hati
pilupun larut karena memandangnya, dia yang ta’at pada suaminya, menjaga
kehormatan suami, yang juga menjaga hartanya. Ridho suamilah yang menjadi
landasan dalam ber’amal. Karena ridhonya Alloh adalah ridho suaminya...Dia
menjadi ’Madrasatul ’ummah’ –madrasahnya keluarga. Dia yang
menemani suaminya menuju surgaNya. Amin..Summa Amin
- Rumah yang
memiliki anak-anak penyejuk pandangan, yang menjadi cahaya yang
mencahayakan, yang selalu mendo’akan Abi dan Umminya. Penerus cita dan
harap keluarga untuk menjadi ’keluarga taqwa’. Yang dia ikhlas ketika Abi
dan Umminya tiada dengan senantiasa meneruskan sunnah hasanahnya
–kebiasaan baik orang tua. Anak-anak yang kelak menjadi hamba-hambaNya
yang senantiasa bersyukur dan bersabar. Serta anak-anak yang menjadi
pemimpinnya orang-orang taqwa.
- Rumah seperti
itu.... menjadi replikanya ’rumah akhirat’
Sesuatu yang ada, dan bisa diwujudkan atas bimbinganNya. Satu
hal Saudaraku..mari luruskan niat diawal, dan bersungguh-sungguhlah dalam
ber’amal.
Mari kita sambut...untuk mewujudkannya.
Emm..
Saudaraku, Cukup saja dulu hari ini.
InsyaAlloh, Esok kita jumpa lagi...
Salam untuk semua,
Jaga dhuhamu, tilawahnya
Serta wudhu tak ketinggalan...
Walhamdulillahhirobbil’alamin..
Wallohu’alam..