andri subarul 's posts with tag: ranah tafakur
Motivasi sabar... Saat shubuh
yang kunanti, menyambut karunia-Nya yang teramat luas Heltic City
| 28 Maret 2007 as. nuryaqin
Bismillaahirrohmannirrohiim...
Segala puji milikmu Yaa Robbi, ijinkan hambaMu ini
menjadi ahli syukur, yang setiap langkah menjadikan hambaMu ini mendekat
padaMu. Titip salam pada baginda Rosululloh, yang telah memberikan teladan pada
kita semua tuk ’ittiba padanya. Tak lupa saudara-saudaraku seiman..salamnya tak
tertinggal.
Saudaraku! Sering Ana mendengar keluhan-keluhan saudara
kita, ada yang mengeluh belum punya rezeki, pekerjaan belum kunjung tiba, jodoh
belum hadir, ada yang menghabiskan hidup dengan ’membunuh’ dirinya sendiri, ada
yang tidak kuat dengan sakitnya, ada yang berkeluh kesah dengan kehidupannya,
mencela dirinya karena tidak sempurna, ’merekayasa’ diri supaya tampil lebih
baik, dan banyak lagi.. Ketika Sabar menjadi solusi, banyak orang pula yang
’ragu’ bahkan menolaknya...”sabar...sabar...sabar ada batasnya”..itu
tangkasnya.
Ya sudah...sekarang kita coba, bagaimana Alloh memberikan
cara sederhana untuk memecahkan masalah itu...cara yang setiap orang mampu bila
ada kehendak, bisa bila orang mau melaksanakannya. Saudaraku coba telisik ayat
berikut :
وَالَّذِينَ صَبَرُوا
ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ
أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ
مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ
عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ
Dan orang-orang
yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki
yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan
kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu
(Ar-Ra’d : 22-23)
Kenapa kita
nda bersabar? Yang hakekatnya adalah mencapai ridho-Nya. Kenapa kita
berat tuk bersabar? Yang balasannya adalah surga ‘Adn.
Itulah yang Ana katakan, segala sesuatu tergantung
motivasinya (baca: niatnya), kalaukah dia paham benar dengan motivasi sabar
sesungguhnya, maka sabar akan menjadi baju kesehariannya. Sabar akan menjadi perisai hidupnya. Tidak
mengeluh dan tidak pula berburuk sangka pada-Nya.
Olehnya, balas sesuatu yang kurang dengan berlebih, balas
keburukan dengan kebaikan, balas ’amal yang tidak baik, dengan segera berbuat
baik. Itulah kuncinya. Ketika
permasalahan hidup hinggap, sehingga kita hampir-hampir tidak mampu lagi
bertahan, maka jawab dengan mendirikan Sholat..agar jiwa ini tenang dan
’bening’, iringi dengan menyisihkan sebagian harta kita...jiwa akan terbuka
lapang dan lega. Maafkan kekurangan orang dengan kebaikan. Mereka itu semua
akan peroleh balasan, yang mereka sendiri tidak menyadari darimana balasan itu
tiba. Subhanalloh...
Biasakan tuk memiliki ’sikap yang berkebalikan’-jika
malas ganti dengan giat, jika cemberut ganti dengan hati yang riang, jika lagi ada
masalah, cepat cari solusi...demikian karakter orang yang sungguh, yaitu bersegera...,
kadang hal sederhana ini...terasa berat untuk menjadi kebiasaan. Tanya kenapa?
Karena niat kita yang belum lurus, keikhlasan kita yang belum teruji benar,
serta kesungguhan kita dalam berikhtiar yang masih kurang...
Saudaraku...berat memang, Ana menyampaikan ini, Alloh
amat murka pada orang yang mudah menyampaikan, namun ’amalnya yang tidak
tampak..
Yaa Robbi, Ana berlindung dari hal itu semua...
Ayo..mari berjuang tuk ber’amal...dan bersabar.
Sudah dulu perjumpaan kita di
pagi ini, InsyaAlloh..kalau ada umur, kita berjumpa lagi kali lain.
Syukron...Jaziilan Jaga tilawahmu
dan perbanyak ingat padaNya.
Alhamdulillahhirobbil’alamin
Wallohu’alam
Menghadirkan
suasana… Mengenal ‘pola
kerja’ para sahabat Jakarta | 14
Februari 2007 as. nuryaqin
Bismillaahirrohmannirrohiim...
Bagaimana
kabarnya saudaraku? Mari kita
bersyukur sejenak, alhamdulillah yaa Robb! ni’mat mana lagi yang
kudustakan..Astaghfirullah, Tak berbilanglah ni’mat yang kuperoleh ini. Shalawat
serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh.. Moga Alloh
ijinkan kita bersua dengannya.
Jadikan hambaMu dan kami ini menjadi ahli syukur…Yaa
Robb! Menjadi pilar umat dan pendamping rosululloh nanti disurgaMu
kelak..
Saudaraku!, coba sekarang sebentar kita menengok salah
satu pola kerja para sahabat dan pengikutnya Rosululloh saw, mereka bercahaya
dan tidak ada yang menandinginya...
Bagaimana Khalid bin Walid mencapai puncak prestasinya
dalam perang yarmuk .. Bagaimana Sholahudin Al-Ayyubi yang mengusai al-Quds.. Bagaimana Muhammad al-Fatih Murad yang membebaskan
konstantinopel.. Bagaimana Handzolah, dengan syahidnya.. Bagaimana dengan Syekh Abdullah Azzam, dengan semangat
jihadnya.. Bagaimana .. Bagaimana..
Ternyata mereka telah menemukan kuncinya, kenapa mereka bisa
begitu bersemangat..memang itulah pola kerja mereka..
Mereka senantiasa menghadirkan suasana hari
pertama di padang masyhar, pola kerja mereka adalah pola ’kerja akhirat’ sudah tak
ternilai harganya...
Mereka bersemangat, berakal dan
cerdas karenya..Mereka malu dan takut bila harus masuk golongan seperti ini :
وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ
يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ
Dan kamu akan melihat orang-orang yang
berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.(Ibrohim : 49)
سَرَابِيلُهُمْ
مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ
Pakaian
mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka(Ibrohim
:50)
Maka, dari sanalah para sahabat dan
pengikutnya, melenggangkan kaki ke medan tempur, dengan gagah dan mantap.
Mereka berani, sabar,
optimis, penuh vitalitas, unik. Yah... itulah mereka yang dapat memanfaatkan momentum kemenangan.
Saudaraku..mari kita siapkan ruh kita,
fikroh kita, jasad kita tuk menyambut ini, dari sini akan lahir perencanaan,
dari sini lahir keoptimisan hidup, dari sini lahir keterarahan
melangkah...jadikan diri tuk jadi teladan.
Saudaraku..moga kita senantiasa dapat
menghadirkan suasana hari pertama di padang masyhar dalam keseharian kita.
Amin... Beda terasa...
Saudaraku...saya pamit sebentar, hendak
mau menyambut karuniaNya yang teramat luas di pagi ini...Do’aku selalu
menyertaimu..
Syukron...Jaziilan Jaga imanmu.. Tarbiyah dan
tilawah serta wudhumu
Wallohu’alam
senandung jihad disela-sela mengerjakan
amanah jakarta office | 29 januari 2007 as. nuryaqin
selintas
terpikir nasib, saudara kita yang jauh
dari apa yang mereka harap dan gapai, namun peluh
dan derita tidak menjadikan mereka
surut melangkah… mereka
terus bergerak menggapai karunia-Nya, mereka sambut
dengan tengadah tangan padaNya dan ayunan langkah berlari
mengejarnya..
satu ucap
kata …Subhanalloh!!
Satu pertanyaan
: sudahkah kita seperti mereka? “yang berjasa,
tapi tak perlu dipamerkan, tak terasa
namun hasilnya selalu
kita rasakan… salam bakti
tukmu yang senantiasa baktinya untuk mencerdaskan umat ,…ku ingin menjemputmu, dan mengejar
kemulianmu… "Sebaik-baiknya kamu sekalian, adalah orang yang paling bermanfaat untuk yang lainnya"
inilah senandungku :
“..biarlah jari-jemari menari diatas
kertas, tuk mengguratkan jiwa dan menajamkan akal ku bentuk peradaban dengan
membiarkan ia tetap merangkai sejuta kata dan makna...
kupancangkan kaki ke tanah kukepalkan tangan menyongsong cita
dan harap kugenggam 'ilmu dengan keikhlasan
pada-Mu kugapai cita dengan sungguh-sungguh ya Rabb! bangunkan seluruh potensi yang
Engkau anugerahkan padaku... biar kusambut dengan penuh semangat kesempatan yang bergelora ini ya Rabb!...
kau akan tahu bagaimana pahitnya
perjuangan ini guna merasakan bagaimana penderitaan
orang banyak agar…saya menjadi
paham
inilah barangkali rasanya orang banyak itu tidak ada yang dimiliki ‘mereka’ selain
KESABARAN, HUSNUDZON, SEMANGAT yang dengan beginilah saya ini
belajar, kuharus mampu bangkit... terbang keangkasa luar untuk
menggapai ridho-Nya”
yaa Allah dari sinilah kita banyak
belajar... saya belajar banyak :
1. bagaimana membiasakan untuk ‘membaca’ 2. bagaimana untuk membiasakan ‘menulis
‘ 3. biar bisa kreatif 4. bagaimana untuk menyusun waktu
dengan renyah 5. banyaklah tadabbur dan tafakur
kau nanti, akan menyadari …
dengan inilah saya menjadi BESAR dengan inilah saya menjadi TELADAN dengan inilah saya menjadi GURU
PERADABAN dengan inilah saya menjadi DOSEN
KEHIDUPAN dengan inilah saya terus bergerak..
InsyaAlloh… Wallohu'alam...
… yang tersungkur jatuh Jakarta | 19
Januari 2007 as. nuryaqin
Bismillah...
Saudaraku! Bagaimana kabar hari ini? Kabar baik ana harap
benar, antum peroleh dikesehariannya. Bekas-bekas hujan masihlah terlihat, tadi
malam hujan tiba begitu deras namun sebentar, membasahi disekitar tempat
kuberteduh –Banjarsari Cilandak. Udara segar yang kuhirup turut memberikan
arti dikeheningan shubuh ini.
Yaa Robbi..Ijinkan ku menyampaikan rasa syukur yang
teramat kepadaMu dengan kerendahan hati mengucapkan:
Yaa Robbi berilah di pagi ini kecerahan atas cerahnya
naunganMu Kecerahan atas kalimat ikhlasMU Dan pula diatas tuntunan nabi Muhammad Rosululloh...
Kita semua sudah mafhum, bahwa kedatangan kita kedunia
ini tentunya atas kehendak yang Kuasa –Alloh tabarok ta’ala, kita datang
dari tempat yang mulia, dan kita disediakan segala fasilitas olehNya dengan
segala jaminanNya. Dan untuk menjalani ini kita juga sudah mengetahui, tidaklah
mudah..
Iman al-Ghazali pernah menyampaikan : ”Apabila kita memiliki tujuan sangat besar dan mulia
sukarlah jalan yang ditempuh dan bukanlah sedikit rintangan”
Nah!, hemat ana dari hal itu semua yang terpenting, yang
akan memberikan jaminan dan keselamatan adalah bagaimana keadaan qolb (baca
: hati). Bila hatinya baik, maka baik pulalah yang lainnya. Bila hati ini sehat
maka selamatlah perjalanannya. Bila hati ditimpa meriang, maka meriang
pula diperoleh. Tujuan menjadi kabur, yang terkumpul menjadi terurai, yang
terkokohkan menjadi bercerai berai, yang dikejar tidaklah didapat. Maka sangatlah
banyak riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana kita merawat hati kita. Oh
ya! Kemarin kami terlibat dalam diskusi yang hebat. Kawanku berbicara tentang
keadaan di kantornya, dia bilang kalau Bapak fulan berbuat demikian
pokoknya saya tidak bisa terima, dia harus ngerti –katanya. Dan saya ingin
mereka ngerti akan keadaanku –katanya. Menarik saat itu, ada dua kata yang unik
padanya..tentang kata kalau dan ingin, hemat ana itu adalah kata dengan bahasa buruk
sangka, bahasa kurang baik. Sejauhmana orang merancang pikiran dan hati kesalah
satu arah, maka seluruh gerakan diri dan jiwa hendak pula menuju kesana. Bila
hati dan pikiran sudah mengarah pada hal yang tidak baik, maka hasilnya pun
bisa kita prediksi menjadi tidak baik pula. Kenapa? Karena saya pikir kejadian
itu belum terjadi, hanya dalam alam perkiraan, capailah jiwa ini memikirkan hal
itu. Dan sebaliknya, bila hati dan pikiran kita diupayakan untuk selalu baik
sangka dan bahasa positif, maka kecenderungan untuk berhasil akan diperoleh.
Itulah hemat ana, qolb –hati sangatlah berperan penting untuk
mendampinginya.
Saat-saat tertentu kita perlu melakukan diet, mengatur
makanan hati, sebagaimana bagi sebagian orang atas anjuran dokter untuk
mengatur makanan mereka.
Dalam kitab ’’Madarijus Salikin” karangan Ibnu
Qoyyim, menerangkan bahwa ada lima perkara, lima sikap yang dapat menyungkurkan
hatinya, merusaknya dan membuat kabur tujuan kemana yang hendak dicari. Padahal
hati kecilnya, sudah berniat untuk mendekatkan diri kepada Robbnya, dengan segala
daya dan upaya, namun ditengah jalan harus melewati rintangan ini, maka
terganggulah perjalanannya. Kelima perkara itu adalah :
- Salah
memilih pergaulan
- Hidup
tenggelam dalam angan-angan
- Menukar
tujuan ditengan jalan
- Banyak
makan
- Banyak
tidur.
InsyaAlloh, dalam tulisan berikutnya, ana akan uraikan
sedikit tentang kelima perkara diatas, waktu shubuh sudah tiba. Ana punya tugas
lain untuk mengejarnya...
Tetap jaga imanmu! Saudaraku Perbanyak bekal dengan taqwa, karena sebaik-baik bekal
adalah taqwa...
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ...
...Berbekallah, dan sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang
berakal (al-Baqoroh : 197)
Wallohu’alam...
Cahaya imanpun memiliki takarannya Jakarta | 16
Januari 2007 as. Nuryaqin
Bismillah... Assalamu’alaikum wahai saudaraku Udah lama rasanya ana tidak
menyapa...
Pagi yang cerah ini, Alloh tetap
memberikan kesempatan untuk menghirup udaraNya yang segar dan menatap awan yang
memutih bergumpalan..Titip salam bagi rosul-Mu, Muhammad Rosululloh..
Manusia...kalau dia belum sadar
akan hubungannya dengan Khaliqnya-Penciptanya, nyatanya dia belum dikatakan
hidup, berarti keadaan matilah dia peroleh. Hidup belum berarti bilamana dia
tidak memiliki kesadaran akan dirinya, darimana dia ada, bagaimana dia berada,
dimana dia berpijak, kemana dia berangkat..., belum ada hidup bila belum ada
kesadaran hidup.
Coba kita tengok salah satu firman Alloh :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ
إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu
yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah
membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan
dikumpulkan.
Itulah mahalnya nilai dari sebuah kesadaran, sebelum seruan
itu kita sadari, maka hidup ini tidak memiliki nilai lagi, tidak memiliki harga
sedikitpun, dapat kita ambil arti bahwa percaya akan adanya yang mencipta, ada
yang melihat, ada yang mendengar, ada yang mencatat..nah itulah permulaan dari
arti sebuah hidup. Tanpa itu semua hidup terasa
hampa dan kering. Kehilangan keyakinan tersebut maka jawabannya lebih baik mati
yang menjadi balasannya.
Kesadaran akan membuat orang
bangkit dari kelemahan, dengan kesadaran akan membuat setiap ’amal itu
bermakna. Dengan kesadaran menjadikan seseorang itu berlari lebih cepat, dengan
kesadaran pula pintu kesuksesan terbuka lebar. Itulah kenapa orang berbeda
kadar ’amaliyahnya karena dari pemahaman akan ’ilmunya –yah itulah kesadaran.
Dari kesadaran akan lahir berpikir dari, bagaimana, dan kemana hidup ini akan
diraih, hal apa yang baru yang didapat, hal baru apa yang hendak diraih.
Kalau kesadaran telah hadir maka
itulah kunci kemenangan akan tiba, kita tidak akan ragu lagi melangkah, tidak
meraba-raba jalan mana yang perlu ditempuh..semua sudah jelas. Yah itulah
kesadaran.
Hatipun bulat teringat hanya
SATU tujuan yang digapai, tidak dua dan juga tidak berbilang. Dengan terang
memberikan cahaya dalam hati, memberikan sinar dalam fikiran, maka pandanganpun
menjadi jauh kedepan, dimata tampaklah ciptaan-Nya, dibathin terasa nampak Alloh tabarok ta’ala
yang hadir. Nampaklah bagi dia janjiNya akan berbalas Surga, azabNya akan
berbuah neraka..yah itu lagi-lagi kesadaran. Tampak pula mana yang harus
dikerjakan dan manapula yang harus dijauhi. Seakan-akan nampaklah sesuatu yang
bagi orang lain tidak tampak, mata hati menangkap sinyal-sinyal dari PenciptaNya.
Dia sadar akan keberadaanya
didunia ini, sadar pula nanti atas pertanyaan yang akan diajukan oleh malaikat
alam kubur –dan bagaimana menjawabnya, sadar bahwa dia akan melewati
jalan Ashshirothal mustaqim. Berjalan diatasnya dengan secepat kilat,
atau belum sampaipun dia telah tergelincir ke jurang neraka. Ada yang terhempas
ke lautan api, ada yang terdampar di tepi neraka...ada yang mampu berdiri dan
jatuh lagi, ada yang jatuh dan tidak kembali lagi.
Saudaraku..disamping melihat
keadaan akan hari akhir di mata bathinnya, dimatanya terpancar pula kecerahan
masa depan, yah kebahagiaan hidup dengan aliran cahaya imannya yang terpancar,
tidak surut melangkah untuk menggapai ridho-Nya di medan laga. Semuanya jelas,
lantaran keyakinan dalam diri, bahwa apa yang telah ditentukan oleh Alloh,
tidak ada yang dapat dirubah oleh siapapun..dia menyambut dengan penuh suka
cita.
Makin dekat dengan sang Pencipta,
maka semakin teranglah cahaya imannya, semakin taqorub dengan
Pemilik-Nya disetiap penghujung malam, maka terpancarlah cahaya
bathinnya...itulah kenapa saudaraku. Semakin orang kuat dalam beribadah
kepadaNya maka semakin mengkilaplah cahaya imannya, semakin bersihlah jiwanya.
Iman memiliki takaran, dia juga punya ukuran biasa, ukuran tinggi, juga ukuran luas.
Diibaratkan seorang mukmin berdiri diatas ka’bah, maka cahaya bisa jatuh
bersinar kearah selatan, sampai ke negeri Yaman, ke utara sampai ke Eropa. Ke barat
sampai ke Mesir, ke timur sampailah ke negeri Cina. Bahkan ada yang lebih dari
itu, cahayanya bisa meliputi seluruh langit dan muka bumi. Cahaya Iman Muhammad
meliputi seluruh langit dan bumi dan cahaya Alloh meliputi seluruh alam, yang
kelihatan ataupun yang tidak tampak. Tetapi ada orang yang cahayanya hanya
disekeliling dirinya saja. Adapula yang tidak bercahaya sedikitpun, kemudian
Alloh cabut cahaya itu, karena telah dinodai dengan kemaksiatan yang sangat.
Oleh sebabnya, dosa membuat
cahaya iman itu meredup, cahaya iman tidak kuat lagi memancar. Saudaraku...mari
kita raih cahaya iman ini, kita semai cahaya ini dengan ke-Istiqomahan
dalam ber’ibadah, guna meraih lingkaran cahaya iman yang kian hari semakin
meluas. Yah...cahaya iman memiliki ukuran, sejauh mana orang mau meluaskan
ukuran itu, itu menjadi wasilah baginya untuk meraihnya. Kuncinya
sedalam apa orang mengenal dengan maha pemilikNya, maka pancaran iman bertambah
cemerlang jiwanya. Dia memiliki cahaya yang semakin lama semakin gemilang.
Walaupun dia telah dikalang dengan tanah, telah terkubur dalam bumi. Cahaya
tetap cerah dan mencerahkan bagi yang lainnya.........
Yaa Alloh, Yaa Tuhanku, Yaa
Robbi, Yaa Karim Cemerlangkanlah cahaya Iman kami
ini! A m i n ...................
Wallohu’alam
Pertanyaan menggelitik? Jakarta | 10
Januari 2007 As. Nuryaqin
Bismillah... Saudaraku!
“Andaikata Alloh Tabarok Ta’ala akan mengabulkan semua permintaanmu, apa yang hendak kau inginkan?”
Saudaraku! Itu
pertanyaan menggelitik yang hari ini kudapat. Disanalah ma’na
tujuan/ghoyyah itu lahir... Dari sanalah
orang merangkak untuk mengejarnya... Dari sana pula
orang beranjak untuk berangkat... Dari sana orang
berjuang merengkuh cita dan harap ... Dari sana orang
berlari mengejarnya...
Kejarlah ma’na
hal ini, Saudaraku! Dorongan jiwa akan mengiringinya, hasrat akan
mendorongnya..tentunya jasad, pikiran dan akal kita turut ’membantunya’
Nah! Milikilah
sesuatu yang ingin dikejar...tidak semua orang mudah meraihnya, cari dan
temukan!
Well! good luck for your journey, Brother!
Wallohu’alam
sudah sejauh mana..? jakarta | 08 Januari 2007 a. subarul nuryaqin
umurlah yang terus meninggalkan kitawaktu berjuang dengan giat namun dialah yang masih belum sadar akan hal itu terus berleha dan menatap dengan kosongdi umur lebih 1/4 abad inikutulis ditengah saya sedang berjuang... adalah umur...
umur, perjuangan ...umur, pengorbanan ...umur, tidak ada untuk berleha ...umur, pembangunan ...
sudah sejauhmana? yah..sudah sejauhmana kita beriman dan ber'amal sholeh itu yang menjadi 'key factor of life' Ya Alloh, Jadikan umurku ini menjadi barokah dan ridho-Mu hadir disana Amin...
InsyaAlloh hari kemudian, saya akan merangkai serial 'iman dan 'amal sholeh' Moga Alloh Tabarok ta'ala berkenan...
Wallohu'alam...
Titik tiga... Catatan
perjalanan Rumah
Iqro | 2006
Kawan...
Kumerasa 3 (tiga) bulan
ini, menjadi bulan perjuangan beratku, bulan evaluasi seluruh kemampuanku,
bulan ujian yang menerpaku, bulan dimana orang banyak berharap padaku...
Satu ungkap husnuzhan
dari hati yang terdalam
Barangkali inilah
kesempatan yang Allah berikan padaku, untuk mulai berpikir dan mengevaluasi
langkah-langkah yang kurangkai ini. Boleh jadi ’ntah kemana, saya ini melangkah
tanpa tujuan. Yaa Allah... bulan-bulan ini begitu berat kulalui...
Namun, tetap saya memiliki
nilai yang tidak boleh lepas, sama sekali yaitu :
Kemuliaan
dalam Islam,
Antara perpustakaan
dengan perpustakaan kujambangi Antara kegiatan dengan
kegiatan kuikuti Antara buku dengan buku
yang kubaca Antara orang dengan
orang yang kutemui Antara kebiasaan dengan
kebiasaan kulakukan Antara kegigihan dengan
kemalasan yang kurasakan Antara kebingungan
dengan keterarahan Antara cita-cita dengan
kenyataan Antara kemauan dengan
hakekat Antara kesiapan dengan
ketidaksiapan Antara tuntutan dengan
idealisme Antara kejujuran
melangkah dengan kebimbangan Antara cinta dengan
ketidakberanian Antara harapan dengan
pandangan Antara jiwa dengan akal Antara langkah dengan
diam Antara keimanan dengan
kesholehan Antara jalan dengan
jalan yang kutelusuri Antara kebimbangan
dengan keadaan Antara kebodohan dengan
keahlian Yaa Allah... itulah
sebagian jeritan diriku 3 bulan terakhir
Aku pilih tidak tinggal
diam Kenapa?
Karena aku diciptakan Allah
adalah sebagai Khalifah هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ, maka,
sudah semestinya saya ini berkarya dan menghasilkan. Ntah apalah yang membuat
dinding ini sulit kutembus. Padahal
Allah senantiasa mengingatkanku dengan
ayat berikut :
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ
بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
Dan
sungguh telah Kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (Kami
tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang
saleh.
Subhanallah!
Ternyata
saya harus mengambil dengan cepat derajat ini. Bumi ini dipusakai bagi
orang-orang yang SHOLEH.
Dia
memiliki iman yang kokoh, menghujam kedalam dengan begitu kuat Dia
memiliki keahlian yang fregel, menyusuri kesetiap tangkai kehidupan Dia
memiliki kesholehan yang terpancar, mencerminkan jiwa tanpa kebisuan Dia
yang menggabungkan antara KEIMANAN dan KESHOLEHAN berada dalam satu tubuh.
...
Aku
akan mulai kehidupan baru ini...
Kan
gupai!
A
Subarul Nuryaqin Seorang yang berhasrat besar Untuk
berkontribusi pada umat ini.
Kemana melangkah? Rumah Iqro | A. Subarul Nuryaqin

Apa yang terpikirkan ? Yang ada hanyalah… Bagaimana saya memulai dan Istiqomah menjalaninya…
Hubungan Istimewa (1) Rumah iqro | as.
Nuryaqin Jakarta, 22 Desember
2006
3 hal hubungan antara Alloh dengan
Makhluk-Nya : 1 Hal adalah milik-Ku yaitu RUHMU 1 Hal adalah milikmu yaitu ’AMAL PERBUATANMU 1 Hal adalah milik-Ku dan milikmu yaitu DOA dan
PENGABULAN (Hadist Qudsi )
Alhamdulillah... Bab ini ana terketuk
dengan hal yang pertama, seringlah lupa dengan ’amalan kita yang serba sisa dan
terpaksa. Amalan ala kadarnya tidak ada rencana dan semangat, tidak sempurna
dan tidak mau menyempurnakan...tidak menggigit ’amalan kita.
Yah! Itulah kita...,
makhluk yang kadang lupa dan melupakannya
وَنُقَلِّبُ
أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ
وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Dan (begitu pula) Kami
memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman
kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang
dalam kesesatannya yang sangat(Q.S. Al-An’am : 110)
Astaghfirulloh...,
seringlah kita menyepelekan ’amalan kita, padahal ...ruh kita akan kembali pada
Alloh Tabarok Ta’ala . Sering sujud kita tidak bermakna, ikhtiar kita
tidak sempurna, tidak baik, dan tidak ’nyunnah’-bid’ah , sudah membuat
perhitungan bahwa kita sudah diterima ’amalan kita. Mari... :
وَالَّذِينَ
يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Tuhan mereka (Q.S. Al-Mu’minun : 60)
Yaa..Robb! berilah kami
kekuatan untuk senantiasa ber’amal mengikuti sunah Rosul-Mu, biar kami kembali
dengan penuh ridho-Mu....
Dari makhluk-Mu yang
berserah...
Orang-orang
Akhirat dia
menjaga ilmu, ilmu mencerahkannya Rumah
Iqro | a.
subarul nuryaqin
Bismillah…
Inilah yang baru saya
temukan sekarang, sering terpikir mengerjakan sesuatu musti perfect,
serba sempurna dan syamil , tentunya yah! Seharusnya. Akan tetapi apa
yang terjadi... kadangkala ikhtiar kita sedikit, usaha kita minim, dan langkah
kita seret nga ada kemajuan. Coba kita simak ungkapan Ibn Jauzi : ”...kalau
anda merasa berperasaan sabar, maka sungguh ... biasanya ikhtiar kita sedikit”.
Ternyata demikian
adanya... MasyaAllah
Konteks inipula yang
saya kembangkan dalam da’wah dan tarbiyah (baca : pendidikan). Sering kali kita
merasakan telah bersabar dalam mengarungi samudera da’wah ini, tapi yang
terjadi kotribusi kita nol besar, tidak berkembang dan produktif, seperti
seorang kader yang muallaf, list of names-nya dah lawas tapi tidak mau upgrade
diri.
Ambillah suatu
kompetensi yang unik dan kita berjuang tak kenal lelah tuk menggapainya,
niscaya pintu kemenangan dalam ’ilmu itu terbuka lebar, tentunya karena atas
ijin dari-Nya.. Orang yang memiliki inti dari ilmu dan dia terus mencarinya...terus
dan terus...serta ’ilmunya itu menjadi karakter yang dibawa, menjadi
baju keseharianya yang dia pakai. Dari karakter kesemua itulah dia akan dihampiri
cahaya yang mencahayakan. Dia tidak sibuk untuk membuat adonan lagi, harus
membaca resepnya, harus buka-buka lagi jurus-jurusnya. Tapi dia langsung
menggunakan...bak makan sebuah kurma tanpa harus menunggu bagaimana lamanya
kurma itu masak. Itulah makna dari seseorang
yang ’ilmunya sudah diikat dan masuk dalam darah dagingnya.
Menjadi amanah (baca :
pakar) dan menjaganya itu memang tidak bisa dianggap hal yang ringan, namun
itulah sebuah skenario Ilahi yang harus kita sambut dengan rasa syukur ...
لَئِنْ
شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Karakter ‘orang-orang akhirat’ itulah yang dapat
menjadikan amanah sebagai peningkat derajatnya.
Berpikir mendalam Bincang-bincang sehabis
makan malam Jakarta
| 14 Desember 2006
...Maka tidaklah kamu
berpikir? (2:44)
Ketersengajaan dan ketidaksengajaan
ternyata itu adalah karunia Alloh tabarok ta’ala. Tak sengaja di malam
itu menjelang malam yang larut...kami terlibat perbincangan yang amat hangat.
Kenapa? Karena malam itu saya peroleh ilmu yang baru. Ilmu tentang karakter
orang-orang berhasil, ilmu tentang bagaimana mereka melangkah...
Yah! Mengapa Alloh tabarok ta’ala
sering menegur kita? ...أَفَلا تَعْقِلُونَ , karena akal ini
adalah karunia Alloh yang teramat hebat, dia bukti akan adanya Alloh, dia juga
menjadi instrument untuk senantiasa memikirkan tanda-tanda-Nya. Ya Robb...,
Malam
itu, Mas David (kawan saya di rumah Jakarta) –cerita tentang salah seorang
dosennya ketika dia di kampus, Pak Budiyono..namanya –dosen FT-ITB, ungkapan
yang teringat darinya ”kenapa kau nga mau mikir?” –pikirkan ketika kau
masuk kereta! Kenapa pintu kereta bisa tertutup?, bagaimana menutupnya?, dimana
steker listrik di kelas? Kenapa? Bagaimana? Mengapa? ...tanya semua!. Ternyata
ini kuncinya, dari sini intuisi dan insting seseorang akan bangkit, semakin
reflek orang untuk merespon, semakin cepat orang membuat decision. Nah!
Ternyata... ,sebenarnya ini sudah lama saya peroleh, tapi impulsnya mulai
terpantik saat itu. Pembiasaan orang melakukan autoasking, membuat orang
itu semakin bertambah wawasan dan cerdas dalam melangkah. Orang semakin empati
pada aspek luar dirinya..., senantiasa dia penuh dengan tanya yang mesti
dijawab, akal senantiasa bekerja untuk menunggu sebuah jawab. Nah itulah kenapa
...isyarat dalam sebuah kisah, Imam Syafi’i terbiasa untuk memecahkan masalah
lebih 70 masalah setiap malamnya...itu ternyata jawabannya. Semua orang mesti
banyak berpikir dan trigger untuk berpikir itu adalah autoasking –sering
bertanya pada diri.
Ayo biasakan kita untuk memulai
Not talk, action only... Nike! Just do it
Biasakan
tuk bertanya Ya
Robb! benarlah Engkau!
...Maka tidaklah kamu berpikir? (2:44)
| |