andri subarul 's posts with tag: ranah tafakur

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ranah tafakur
Posted by andri subarul on Mar 28, '07 8:14 AM for everyone

Motivasi sabar...
Saat shubuh yang kunanti, menyambut karunia-Nya yang teramat luas
Heltic City | 28 Maret 2007
as. nuryaqin


Bismillaahirrohmannirrohiim...


Segala puji milikmu Yaa Robbi, ijinkan hambaMu ini menjadi ahli syukur, yang setiap langkah menjadikan hambaMu ini mendekat padaMu. Titip salam pada baginda Rosululloh, yang telah memberikan teladan pada kita semua tuk ’ittiba padanya. Tak lupa saudara-saudaraku seiman..salamnya tak tertinggal.


Saudaraku! Sering Ana mendengar keluhan-keluhan saudara kita, ada yang mengeluh belum punya rezeki, pekerjaan belum kunjung tiba, jodoh belum hadir, ada yang menghabiskan hidup dengan ’membunuh’ dirinya sendiri, ada yang tidak kuat dengan sakitnya, ada yang berkeluh kesah dengan kehidupannya, mencela dirinya karena tidak sempurna, ’merekayasa’ diri supaya tampil lebih baik, dan banyak lagi.. Ketika Sabar menjadi solusi, banyak orang pula yang ’ragu’ bahkan menolaknya...”sabar...sabar...sabar ada batasnya”..itu tangkasnya.


Ya sudah...sekarang kita coba, bagaimana Alloh memberikan cara sederhana untuk memecahkan masalah itu...cara yang setiap orang mampu bila ada kehendak, bisa bila orang mau melaksanakannya. Saudaraku coba telisik ayat berikut :

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (Ar-Ra’d : 22-23)


Kenapa kita nda bersabar? Yang hakekatnya adalah mencapai ridho-Nya.
Kenapa kita berat tuk bersabar? Yang balasannya adalah surga ‘Adn.


Itulah yang Ana katakan, segala sesuatu tergantung motivasinya (baca: niatnya), kalaukah dia paham benar dengan motivasi sabar sesungguhnya, maka sabar akan menjadi baju kesehariannya. Sabar akan menjadi perisai hidupnya. Tidak mengeluh dan tidak pula berburuk sangka pada-Nya.


Olehnya, balas sesuatu yang kurang dengan berlebih, balas keburukan dengan kebaikan, balas ’amal yang tidak baik, dengan segera berbuat baik.
Itulah kuncinya. Ketika permasalahan hidup hinggap, sehingga kita hampir-hampir tidak mampu lagi bertahan, maka jawab dengan mendirikan Sholat..agar jiwa ini tenang dan ’bening’, iringi dengan menyisihkan sebagian harta kita...jiwa akan terbuka lapang dan lega. Maafkan kekurangan orang dengan kebaikan. Mereka itu semua akan peroleh balasan, yang mereka sendiri tidak menyadari darimana balasan itu tiba. Subhanalloh...


Biasakan tuk memiliki ’sikap yang berkebalikan’-jika malas ganti dengan giat, jika cemberut ganti dengan hati yang riang, jika lagi ada masalah, cepat cari solusi...demikian karakter orang yang sungguh,
yaitu bersegera..., kadang hal sederhana ini...terasa berat untuk menjadi kebiasaan. Tanya kenapa? Karena niat kita yang belum lurus, keikhlasan kita yang belum teruji benar, serta kesungguhan kita dalam berikhtiar yang masih kurang...


Saudaraku...berat memang, Ana menyampaikan ini, Alloh amat murka pada orang yang mudah menyampaikan, namun ’amalnya yang tidak tampak..

Yaa Robbi, Ana berlindung dari hal itu semua...


Ayo..mari berjuang tuk ber’amal...
dan bersabar.

Sudah dulu perjumpaan kita di pagi ini, InsyaAlloh..kalau ada umur, kita berjumpa lagi kali lain.

Syukron...Jaziilan
Jaga tilawahmu dan perbanyak ingat padaNya.

Alhamdulillahhirobbil’alamin

Wallohu’alam


Posted by andri subarul on Feb 14, '07 8:15 PM for everyone

Menghadirkan suasana…
Mengenal ‘pola kerja’ para sahabat
Jakarta | 14 Februari 2007
as. nuryaqin

Bismillaahirrohmannirrohiim...


Bagaimana kabarnya saudaraku?
Mari kita bersyukur sejenak, alhamdulillah yaa Robb! ni’mat mana lagi yang kudustakan..Astaghfirullah, Tak berbilanglah ni’mat yang kuperoleh ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh.. Moga Alloh ijinkan kita bersua dengannya.


Jadikan hambaMu dan kami ini menjadi ahli syukur…Yaa Robb!
Menjadi pilar umat dan pendamping rosululloh nanti disurgaMu kelak..

Saudaraku!, coba sekarang sebentar kita menengok salah satu pola kerja para sahabat dan pengikutnya Rosululloh saw, mereka bercahaya dan tidak ada yang menandinginya...

Bagaimana Khalid bin Walid mencapai puncak prestasinya dalam perang yarmuk ..
Bagaimana Sholahudin Al-Ayyubi yang mengusai al-Quds..
Bagaimana Muhammad al-Fatih Murad yang membebaskan konstantinopel..
Bagaimana Handzolah, dengan syahidnya..
Bagaimana dengan Syekh Abdullah Azzam, dengan semangat jihadnya..
Bagaimana ..
Bagaimana..


Ternyata mereka telah menemukan kuncinya, kenapa mereka bisa begitu bersemangat..memang itulah pola kerja mereka..


Mereka senantiasa
menghadirkan suasana hari pertama di padang masyhar, pola kerja mereka adalah pola ’kerja akhirat’ sudah tak ternilai harganya...

Mereka bersemangat, berakal dan cerdas karenya..Mereka malu dan takut bila harus masuk golongan seperti ini :

وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ


Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.(Ibrohim : 49)

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ

Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka(Ibrohim :50)

Maka, dari sanalah para sahabat dan pengikutnya, melenggangkan kaki ke medan tempur, dengan gagah dan mantap. Mereka berani, sabar, optimis, penuh vitalitas, unik. Yah... itulah mereka yang dapat memanfaatkan momentum kemenangan.


Saudaraku..mari kita siapkan ruh kita, fikroh kita, jasad kita tuk menyambut ini, dari sini akan lahir perencanaan, dari sini lahir keoptimisan hidup, dari sini lahir keterarahan melangkah...jadikan diri tuk jadi teladan.


Saudaraku..moga kita senantiasa dapat menghadirkan suasana hari pertama di padang masyhar dalam keseharian kita. Amin...
Beda terasa...


Saudaraku...saya pamit sebentar, hendak mau menyambut karuniaNya yang teramat luas di pagi ini...Do’aku selalu menyertaimu..



Syukron...Jaziilan
Jaga imanmu..
Tarbiyah dan tilawah serta wudhumu

Wallohu’alam


Posted by andri subarul on Jan 29, '07 3:09 AM for everyone

senandung jihad
disela-sela mengerjakan amanah
jakarta office | 29 januari 2007
as. nuryaqin


selintas terpikir nasib, saudara kita
yang jauh dari apa yang mereka harap dan gapai,
namun peluh dan derita tidak menjadikan
mereka surut melangkah…
mereka terus bergerak menggapai karunia-Nya, mereka
sambut dengan tengadah tangan padaNya dan ayunan langkah
berlari mengejarnya..

satu ucap kata …Subhanalloh!!

Satu pertanyaan : sudahkah kita seperti mereka?
“yang berjasa, tapi tak perlu dipamerkan, tak terasa namun
hasilnya selalu kita rasakan…
salam bakti tukmu yang senantiasa baktinya untuk mencerdaskan umat ,…ku ingin menjemputmu, dan
mengejar kemulianmu…

"Sebaik-baiknya kamu sekalian, adalah orang yang paling bermanfaat untuk yang lainnya"

inilah senandungku :

“..biarlah jari-jemari menari diatas
kertas, tuk mengguratkan jiwa dan
menajamkan akal
ku bentuk peradaban dengan membiarkan
ia tetap merangkai sejuta kata dan
makna...

kupancangkan kaki ke tanah
kukepalkan tangan menyongsong cita dan harap
kugenggam 'ilmu dengan keikhlasan pada-Mu
kugapai cita dengan sungguh-sungguh
ya Rabb!
bangunkan seluruh potensi yang Engkau anugerahkan
padaku... biar kusambut dengan penuh semangat
kesempatan yang bergelora ini
ya Rabb!...

kau akan tahu bagaimana pahitnya perjuangan ini
guna merasakan bagaimana penderitaan orang banyak

agar…saya menjadi paham

inilah barangkali
rasanya orang banyak itu
tidak ada yang dimiliki ‘mereka’ selain
KESABARAN, HUSNUDZON, SEMANGAT
yang dengan beginilah saya ini belajar,
kuharus mampu bangkit...
terbang keangkasa luar untuk menggapai ridho-Nya”

yaa Allah dari sinilah kita banyak belajar...
saya belajar banyak :

1. bagaimana membiasakan untuk ‘membaca’
2. bagaimana untuk membiasakan ‘menulis ‘
3. biar bisa kreatif
4. bagaimana untuk menyusun waktu dengan renyah
5. banyaklah tadabbur dan tafakur


kau nanti, akan menyadari …

dengan inilah saya menjadi BESAR
dengan inilah saya menjadi TELADAN
dengan inilah saya menjadi GURU PERADABAN
dengan inilah saya menjadi DOSEN KEHIDUPAN
dengan inilah saya terus bergerak..


InsyaAlloh…

Wallohu'alam...


Posted by andri subarul on Jan 18, '07 9:08 PM for everyone

… yang tersungkur jatuh
Jakarta | 19 Januari 2007
as. nuryaqin

Bismillah...

Saudaraku! Bagaimana kabar hari ini? Kabar baik ana harap benar, antum peroleh dikesehariannya. Bekas-bekas hujan masihlah terlihat, tadi malam hujan tiba begitu deras namun sebentar, membasahi disekitar tempat kuberteduh –Banjarsari Cilandak. Udara segar yang kuhirup turut memberikan arti dikeheningan shubuh ini.

Yaa Robbi..Ijinkan ku menyampaikan rasa syukur yang teramat kepadaMu dengan kerendahan hati mengucapkan:


Yaa Robbi berilah di pagi ini kecerahan atas cerahnya naunganMu
Kecerahan atas kalimat ikhlasMU
Dan pula diatas tuntunan nabi Muhammad Rosululloh...


Kita semua sudah mafhum, bahwa kedatangan kita kedunia ini tentunya atas kehendak yang Kuasa –Alloh tabarok ta’ala, kita datang dari tempat yang mulia, dan kita disediakan segala fasilitas olehNya dengan segala jaminanNya. Dan untuk menjalani ini kita juga sudah mengetahui, tidaklah mudah..

Iman al-Ghazali pernah menyampaikan :
”Apabila kita memiliki tujuan sangat besar dan mulia sukarlah jalan yang ditempuh dan bukanlah sedikit rintangan”

Nah!, hemat ana dari hal itu semua yang terpenting, yang akan memberikan jaminan dan keselamatan adalah bagaimana keadaan qolb (baca : hati). Bila hatinya baik, maka baik pulalah yang lainnya. Bila hati ini sehat maka selamatlah perjalanannya. Bila hati ditimpa meriang, maka meriang pula diperoleh. Tujuan menjadi kabur, yang terkumpul menjadi terurai, yang terkokohkan menjadi bercerai berai, yang dikejar tidaklah didapat. Maka sangatlah banyak riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana kita merawat hati kita. Oh ya! Kemarin kami terlibat dalam diskusi yang hebat. Kawanku berbicara tentang keadaan di kantornya, dia bilang kalau Bapak fulan berbuat demikian pokoknya saya tidak bisa terima, dia harus ngerti –katanya. Dan saya ingin mereka ngerti akan keadaanku –katanya. Menarik saat itu, ada dua kata yang unik padanya..tentang kata kalau dan ingin, hemat ana itu adalah kata dengan bahasa buruk sangka, bahasa kurang baik. Sejauhmana orang merancang pikiran dan hati kesalah satu arah, maka seluruh gerakan diri dan jiwa hendak pula menuju kesana. Bila hati dan pikiran sudah mengarah pada hal yang tidak baik, maka hasilnya pun bisa kita prediksi menjadi tidak baik pula. Kenapa? Karena saya pikir kejadian itu belum terjadi, hanya dalam alam perkiraan, capailah jiwa ini memikirkan hal itu. Dan sebaliknya, bila hati dan pikiran kita diupayakan untuk selalu baik sangka dan bahasa positif, maka kecenderungan untuk berhasil akan diperoleh. Itulah hemat ana, qolb –hati sangatlah berperan penting untuk mendampinginya.

Saat-saat tertentu kita perlu melakukan diet, mengatur makanan hati, sebagaimana bagi sebagian orang atas anjuran dokter untuk mengatur makanan mereka.


Dalam kitab ’’Madarijus Salikin” karangan Ibnu Qoyyim, menerangkan bahwa ada lima perkara, lima sikap yang dapat menyungkurkan hatinya, merusaknya dan membuat kabur tujuan kemana yang hendak dicari. Padahal hati kecilnya, sudah berniat untuk mendekatkan diri kepada Robbnya, dengan segala daya dan upaya, namun ditengah jalan harus melewati rintangan ini, maka terganggulah perjalanannya. Kelima perkara itu adalah :

  1. Salah memilih pergaulan
  2. Hidup tenggelam dalam angan-angan
  3. Menukar tujuan ditengan jalan
  4. Banyak makan
  5. Banyak tidur.


InsyaAlloh, dalam tulisan berikutnya, ana akan uraikan sedikit tentang kelima perkara diatas, waktu shubuh sudah tiba. Ana punya tugas lain untuk mengejarnya...


Tetap jaga imanmu! Saudaraku
Perbanyak bekal dengan taqwa, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa...

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ...

...Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (al-Baqoroh : 197)

Wallohu’alam...


Posted by andri subarul on Jan 16, '07 8:02 PM for everyone

Cahaya imanpun memiliki takarannya
Jakarta | 16 Januari 2007
as. Nuryaqin

Bismillah...
Assalamu’alaikum wahai saudaraku
Udah lama rasanya ana tidak menyapa...

Pagi yang cerah ini, Alloh tetap memberikan kesempatan untuk menghirup udaraNya yang segar dan menatap awan yang memutih bergumpalan..Titip salam bagi rosul-Mu, Muhammad Rosululloh..

Manusia...kalau dia belum sadar akan hubungannya dengan Khaliqnya-Penciptanya, nyatanya dia belum dikatakan hidup, berarti keadaan matilah dia peroleh. Hidup belum berarti bilamana dia tidak memiliki kesadaran akan dirinya, darimana dia ada, bagaimana dia berada, dimana dia berpijak, kemana dia berangkat..., belum ada hidup bila belum ada kesadaran hidup.

Coba kita tengok salah satu firman Alloh :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Itulah mahalnya nilai dari sebuah kesadaran, sebelum seruan itu kita sadari, maka hidup ini tidak memiliki nilai lagi, tidak memiliki harga sedikitpun, dapat kita ambil arti bahwa percaya akan adanya yang mencipta, ada yang melihat, ada yang mendengar, ada yang mencatat..nah itulah permulaan dari arti sebuah hidup. Tanpa itu semua hidup terasa hampa dan kering. Kehilangan keyakinan tersebut maka jawabannya lebih baik mati yang menjadi balasannya.


Kesadaran akan membuat orang bangkit dari kelemahan, dengan kesadaran akan membuat setiap ’amal itu bermakna. Dengan kesadaran menjadikan seseorang itu berlari lebih cepat, dengan kesadaran pula pintu kesuksesan terbuka lebar. Itulah kenapa orang berbeda kadar ’amaliyahnya karena dari pemahaman akan ’ilmunya –yah itulah kesadaran. Dari kesadaran akan lahir berpikir dari, bagaimana, dan kemana hidup ini akan diraih, hal apa yang baru yang didapat, hal baru apa yang hendak diraih.

Kalau kesadaran telah hadir maka itulah kunci kemenangan akan tiba, kita tidak akan ragu lagi melangkah, tidak meraba-raba jalan mana yang perlu ditempuh..semua sudah jelas. Yah itulah kesadaran.


Hatipun bulat teringat hanya SATU tujuan yang digapai, tidak dua dan juga tidak berbilang. Dengan terang memberikan cahaya dalam hati, memberikan sinar dalam fikiran, maka pandanganpun menjadi jauh kedepan, dimata tampaklah ciptaan-Nya, dibathin terasa nampak Alloh tabarok ta’ala yang hadir. Nampaklah bagi dia janjiNya akan berbalas Surga, azabNya akan berbuah neraka..yah itu lagi-lagi kesadaran. Tampak pula mana yang harus dikerjakan dan manapula yang harus dijauhi. Seakan-akan nampaklah sesuatu yang bagi orang lain tidak tampak, mata hati menangkap sinyal-sinyal dari PenciptaNya.


Dia sadar akan keberadaanya didunia ini, sadar pula nanti atas pertanyaan yang akan diajukan oleh malaikat alam kubur –dan bagaimana menjawabnya, sadar bahwa dia akan melewati jalan Ashshirothal mustaqim. Berjalan diatasnya dengan secepat kilat, atau belum sampaipun dia telah tergelincir ke jurang neraka. Ada yang terhempas ke lautan api, ada yang terdampar di tepi neraka...ada yang mampu berdiri dan jatuh lagi, ada yang jatuh dan tidak kembali lagi.


Saudaraku..disamping melihat keadaan akan hari akhir di mata bathinnya, dimatanya terpancar pula kecerahan masa depan, yah kebahagiaan hidup dengan aliran cahaya imannya yang terpancar, tidak surut melangkah untuk menggapai ridho-Nya di medan laga. Semuanya jelas, lantaran keyakinan dalam diri, bahwa apa yang telah ditentukan oleh Alloh, tidak ada yang dapat dirubah oleh siapapun..dia menyambut dengan penuh suka cita.


Makin dekat dengan sang Pencipta, maka semakin teranglah cahaya imannya, semakin taqorub dengan Pemilik-Nya disetiap penghujung malam, maka terpancarlah cahaya bathinnya...itulah kenapa saudaraku. Semakin orang kuat dalam beribadah kepadaNya maka semakin mengkilaplah cahaya imannya, semakin bersihlah jiwanya. Iman memiliki takaran, dia juga punya ukuran biasa, ukuran tinggi, juga ukuran luas. Diibaratkan seorang mukmin berdiri diatas ka’bah, maka cahaya bisa jatuh bersinar kearah selatan, sampai ke negeri Yaman, ke utara sampai ke Eropa. Ke barat sampai ke Mesir, ke timur sampailah ke negeri Cina. Bahkan ada yang lebih dari itu, cahayanya bisa meliputi seluruh langit dan muka bumi. Cahaya Iman Muhammad meliputi seluruh langit dan bumi dan cahaya Alloh meliputi seluruh alam, yang kelihatan ataupun yang tidak tampak. Tetapi ada orang yang cahayanya hanya disekeliling dirinya saja. Adapula yang tidak bercahaya sedikitpun, kemudian Alloh cabut cahaya itu, karena telah dinodai dengan kemaksiatan yang sangat.

Oleh sebabnya, dosa membuat cahaya iman itu meredup, cahaya iman tidak kuat
lagi memancar. Saudaraku...mari kita raih cahaya iman ini, kita semai cahaya ini dengan ke-Istiqomahan dalam ber’ibadah, guna meraih lingkaran cahaya iman yang kian hari semakin meluas. Yah...cahaya iman memiliki ukuran, sejauh mana orang mau meluaskan ukuran itu, itu menjadi wasilah baginya untuk meraihnya. Kuncinya sedalam apa orang mengenal dengan maha pemilikNya, maka pancaran iman bertambah cemerlang jiwanya. Dia memiliki cahaya yang semakin lama semakin gemilang. Walaupun dia telah dikalang dengan tanah, telah terkubur dalam bumi. Cahaya tetap cerah dan mencerahkan bagi yang lainnya.........

Yaa Alloh, Yaa Tuhanku, Yaa Robbi, Yaa Karim
Cemerlangkanlah cahaya Iman kami ini!
A m i n ...................

Wallohu’alam


Posted by andri subarul on Jan 9, '07 9:54 PM for everyone

Pertanyaan menggelitik?
Jakarta | 10 Januari 2007
As. Nuryaqin


Bismillah...
Saudaraku!

“Andaikata Alloh Tabarok Ta’ala akan mengabulkan semua permintaanmu, apa yang hendak kau inginkan?”

Saudaraku! Itu pertanyaan menggelitik yang hari ini kudapat.
Disanalah ma’na tujuan/ghoyyah itu lahir...
Dari sanalah orang merangkak untuk mengejarnya...
Dari sana pula orang beranjak untuk berangkat...
Dari sana orang berjuang merengkuh cita dan harap ...
Dari sana orang berlari mengejarnya...

Kejarlah ma’na hal ini, Saudaraku! Dorongan jiwa akan mengiringinya, hasrat akan mendorongnya..tentunya jasad, pikiran dan akal kita turut ’membantunya’

Nah! Milikilah sesuatu yang ingin dikejar...tidak semua orang mudah meraihnya, cari dan temukan!


Well! good luck for your journey, Brother!


Wallohu’alam


Posted by andri subarul on Jan 7, '07 9:01 PM for everyone
sudah sejauh mana..?
jakarta | 08 Januari 2007
a. subarul nuryaqin




umurlah yang terus meninggalkan kita

waktu berjuang dengan giat
namun dialah yang masih belum sadar
akan hal itu
terus berleha dan menatap dengan kosong
di umur lebih 1/4 abad ini
kutulis ditengah saya sedang berjuang...
adalah umur...

umur, perjuangan ...
umur, pengorbanan ...
umur, tidak ada untuk berleha ...
umur, pembangunan ...

sudah sejauhmana?
yah..sudah sejauhmana kita beriman dan ber'amal sholeh
itu yang menjadi 'key factor of life'
Ya Alloh, Jadikan umurku ini menjadi barokah dan ridho-Mu hadir disana
Amin...

InsyaAlloh hari kemudian, saya akan merangkai serial 'iman dan 'amal sholeh'
Moga Alloh Tabarok ta'ala berkenan...

Wallohu'alam...


Posted by andri subarul on Dec 22, '06 7:44 AM for everyone

Titik tiga...
Catatan perjalanan
Rumah Iqro | 2006

Kawan...

Kumerasa 3 (tiga) bulan ini, menjadi bulan perjuangan beratku, bulan evaluasi seluruh kemampuanku, bulan ujian yang menerpaku, bulan dimana orang banyak berharap padaku...

Satu ungkap husnuzhan dari hati yang terdalam

Barangkali inilah kesempatan yang Allah berikan padaku, untuk mulai berpikir dan mengevaluasi langkah-langkah yang kurangkai ini. Boleh jadi ’ntah kemana, saya ini melangkah tanpa tujuan. Yaa Allah... bulan-bulan ini begitu berat kulalui...

Namun, tetap saya memiliki nilai yang tidak boleh lepas, sama sekali yaitu :

Kemuliaan dalam Islam,

Antara perpustakaan dengan perpustakaan kujambangi
Antara kegiatan dengan kegiatan kuikuti
Antara buku dengan buku yang kubaca
Antara orang dengan orang yang kutemui
Antara kebiasaan dengan kebiasaan kulakukan
Antara kegigihan dengan kemalasan yang kurasakan
Antara kebingungan dengan keterarahan
Antara cita-cita dengan kenyataan
Antara kemauan dengan hakekat
Antara kesiapan dengan ketidaksiapan
Antara tuntutan dengan idealisme
Antara kejujuran melangkah dengan kebimbangan
Antara cinta dengan ketidakberanian
Antara harapan dengan pandangan
Antara jiwa dengan akal
Antara langkah dengan diam
Antara keimanan dengan kesholehan
Antara jalan dengan jalan yang kutelusuri
Antara kebimbangan dengan keadaan
Antara kebodohan dengan keahlian
Yaa Allah... itulah sebagian jeritan diriku 3 bulan terakhir

Aku pilih tidak tinggal diam
Kenapa?

Karena aku diciptakan Allah adalah sebagai Khalifah هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ, maka, sudah semestinya saya ini berkarya dan menghasilkan. Ntah apalah yang membuat dinding ini sulit kutembus. Padahal Allah senantiasa mengingatkanku dengan ayat berikut :

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.

Subhanallah!

Ternyata saya harus mengambil dengan cepat derajat ini. Bumi ini dipusakai bagi orang-orang yang SHOLEH.

Dia memiliki iman yang kokoh, menghujam kedalam dengan begitu kuat
Dia memiliki keahlian yang fregel, menyusuri kesetiap tangkai kehidupan
Dia memiliki kesholehan yang terpancar, mencerminkan jiwa tanpa kebisuan
Dia yang menggabungkan antara KEIMANAN dan KESHOLEHAN berada dalam satu tubuh.

...

Aku akan mulai kehidupan baru ini...

Kan gupai!

A Subarul Nuryaqin
Seorang yang berhasrat besar
Untuk berkontribusi pada umat ini.


Posted by andri subarul on Dec 22, '06 7:23 AM for everyone



Kemana melangkah?
Rumah Iqro |
A. Subarul Nuryaqin

Apa yang terpikirkan ?
Yang ada hanyalah…
Bagaimana saya memulai dan Istiqomah menjalaninya…


Posted by andri subarul on Dec 21, '06 8:00 PM for everyone

Hubungan Istimewa (1)
Rumah iqro | as. Nuryaqin
Jakarta, 22 Desember 2006


3 hal hubungan antara Alloh dengan Makhluk-Nya :
1 Hal adalah milik-Ku yaitu RUHMU
1 Hal adalah milikmu yaitu ’AMAL PERBUATANMU
1 Hal adalah milik-Ku dan milikmu yaitu DOA dan PENGABULAN
(Hadist Qudsi )

Alhamdulillah...
Bab ini ana terketuk dengan hal yang pertama, seringlah lupa dengan ’amalan kita yang serba sisa dan terpaksa. Amalan ala kadarnya tidak ada rencana dan semangat, tidak sempurna dan tidak mau menyempurnakan...tidak menggigit ’amalan kita.

Yah! Itulah kita..., makhluk yang kadang lupa dan melupakannya

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat(Q.S. Al-An’am : 110)


Astaghfirulloh..., seringlah kita menyepelekan ’amalan kita, padahal ...ruh kita akan kembali pada Alloh Tabarok Ta’ala . Sering sujud kita tidak bermakna, ikhtiar kita tidak sempurna, tidak baik, dan tidak ’nyunnah’-bid’ah , sudah membuat perhitungan bahwa kita sudah diterima ’amalan kita. Mari... :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (Q.S. Al-Mu’minun : 60)

Yaa..Robb! berilah kami kekuatan untuk senantiasa ber’amal mengikuti sunah Rosul-Mu, biar kami kembali dengan penuh ridho-Mu....

Dari makhluk-Mu yang berserah...


Posted by andri subarul on Dec 19, '06 11:49 PM for everyone

Orang-orang Akhirat
dia menjaga ilmu, ilmu mencerahkannya
Rumah Iqro | a. subarul nuryaqin



Bismillah…

Inilah yang baru saya temukan sekarang, sering terpikir mengerjakan sesuatu musti perfect, serba sempurna dan syamil , tentunya yah! Seharusnya. Akan tetapi apa yang terjadi... kadangkala ikhtiar kita sedikit, usaha kita minim, dan langkah kita seret nga ada kemajuan. Coba kita simak ungkapan Ibn Jauzi : ”...kalau anda merasa berperasaan sabar, maka sungguh ... biasanya ikhtiar kita sedikit”.

Ternyata demikian adanya... MasyaAllah

Konteks inipula yang saya kembangkan dalam da’wah dan tarbiyah (baca : pendidikan). Sering kali kita merasakan telah bersabar dalam mengarungi samudera da’wah ini, tapi yang terjadi kotribusi kita nol besar, tidak berkembang dan produktif, seperti seorang kader yang muallaf, list of names-nya dah lawas tapi tidak mau upgrade diri.

Ambillah suatu kompetensi yang unik dan kita berjuang tak kenal lelah tuk menggapainya, niscaya pintu kemenangan dalam ’ilmu itu terbuka lebar, tentunya karena atas ijin dari-Nya.. Orang yang memiliki inti dari ilmu dan dia terus mencarinya...terus dan terus...serta ’ilmunya itu menjadi karakter yang dibawa, menjadi baju keseharianya yang dia pakai. Dari karakter kesemua itulah dia akan dihampiri cahaya yang mencahayakan. Dia tidak sibuk untuk membuat adonan lagi, harus membaca resepnya, harus buka-buka lagi jurus-jurusnya. Tapi dia langsung menggunakan...bak makan sebuah kurma tanpa harus menunggu bagaimana lamanya kurma itu masak. Itulah makna dari seseorang yang ’ilmunya sudah diikat dan masuk dalam darah dagingnya.

Menjadi amanah (baca : pakar) dan menjaganya itu memang tidak bisa dianggap hal yang ringan, namun itulah sebuah skenario Ilahi yang harus kita sambut dengan rasa syukur ...

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Karakter ‘orang-orang akhirat’ itulah yang dapat menjadikan amanah sebagai peningkat derajatnya.


Posted by andri subarul on Dec 17, '06 9:58 PM for everyone

Berpikir mendalam
Bincang-bincang sehabis makan malam
Jakarta | 14 Desember 2006

...Maka tidaklah kamu berpikir? (2:44)

Ketersengajaan dan ketidaksengajaan ternyata itu adalah karunia Alloh tabarok ta’ala. Tak sengaja di malam itu menjelang malam yang larut...kami terlibat perbincangan yang amat hangat. Kenapa? Karena malam itu saya peroleh ilmu yang baru. Ilmu tentang karakter orang-orang berhasil, ilmu tentang bagaimana mereka melangkah...

Yah! Mengapa Alloh tabarok ta’ala sering menegur kita? ...أَفَلا تَعْقِلُونَ , karena akal ini adalah karunia Alloh yang teramat hebat, dia bukti akan adanya Alloh, dia juga menjadi instrument untuk senantiasa memikirkan tanda-tanda-Nya. Ya Robb...,

Malam itu, Mas David (kawan saya di rumah Jakarta) –cerita tentang salah seorang dosennya ketika dia di kampus, Pak Budiyono..namanya –dosen FT-ITB, ungkapan yang teringat darinya ”kenapa kau nga mau mikir?” –pikirkan ketika kau masuk kereta! Kenapa pintu kereta bisa tertutup?, bagaimana menutupnya?, dimana steker listrik di kelas? Kenapa? Bagaimana? Mengapa? ...tanya semua!. Ternyata ini kuncinya, dari sini intuisi dan insting seseorang akan bangkit, semakin reflek orang untuk merespon, semakin cepat orang membuat decision. Nah! Ternyata... ,sebenarnya ini sudah lama saya peroleh, tapi impulsnya mulai terpantik saat itu. Pembiasaan orang melakukan autoasking, membuat orang itu semakin bertambah wawasan dan cerdas dalam melangkah. Orang semakin empati pada aspek luar dirinya..., senantiasa dia penuh dengan tanya yang mesti dijawab, akal senantiasa bekerja untuk menunggu sebuah jawab. Nah itulah kenapa ...isyarat dalam sebuah kisah, Imam Syafi’i terbiasa untuk memecahkan masalah lebih 70 masalah setiap malamnya...itu ternyata jawabannya. Semua orang mesti banyak berpikir dan trigger untuk berpikir itu adalah autoasking –sering bertanya pada diri.

Ayo biasakan kita untuk memulai

Not talk, action only...
Nike! Just do it

Biasakan tuk bertanya
Ya Robb! benarlah Engkau!

...Maka tidaklah kamu berpikir? (2:44)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help