andri subarul 's posts with tag: rumah cinta
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | M. Abdul Halim Hamid |
Bagus sekali… untuk seorang Suami yang ingin membahagiakan Istri 
lembaga berumahtangga (2) tertunduk syukur atas ridhoMu... jakarta di shubuh hari, 05 Juli 2007 a. subarul nuryaqin Bismillahirrohmanirrohim.. Ba’da tahmid wa shalawat.. ...sambungan Saudaraku...di Shubuh ini ana melihat bulan yang begitu terang, memancarkan pantulan cahayanya, bertasbih kepada pemilikNya..moga ini pula yang senantiasa menghampiri kita dikeseharian..hati yang cerah yang akan membawa ’amal kita tersenyum pula. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ”... Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imron : 191) Sudah terasa... meskipun masih dalam hitungan belum genap satu bulan. Kami tidaklah melupakan bahwa pertemuan yang menyatukan kita, adalah ada pada sebuah perjuangan, dan ini pula kelak yang akan menjadi hiasan dalam kehidupan berumahtangga kami..penuh dengan aktifitas..bagaimana ’ilmu ini bisa tersampai, sejauhmana kebermanfaatkan keluarga ini tuk ummat, dan sesungguh apa keluarga tuk mewujudkan kecermerlangan risalah...InsyaAlloh wa Aminn.. Arti dari sebuah kepercayaan.. Isteriku...rasa ucap terimakasih kusampaikan, karena mau kuajak belajar bersabar untuk berjuang ini, segala cobaan yang hadir selama ini -seperti yang sudah lama ^-^..kita bersama tuk mencoba melewatinya dengan pinta bimbinganNya...Dan satu saat kita akan memahami, bahwa perjuangan diawal akan mengokohkan kebersamaan kita. Syukron Jaziilan...karena telah menyadari benar, bahwa hidup ini tidak bisa lepas dari ujian-ujian yang sekarang sudah mulai terasa, nda usah khawatir..karena itulah sebenarnya hidup.. Alloh sedang mencoba kita, biar derajat kita bertambah.. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “...Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun..”(Al-Mulk:2) Syukron Jaziilan...karena terus belajar ta’at pada Alloh, karena usaha keta’atan kita pada Alloh, maka 'berjauhan sapa' ini, tidak membuat rasa gelisah didalam hati. Senantiasa kupercayakan.., Adinda selalu menta’atiNya dan menjaga hakNya...Indah ternyata bila bingkai saling percaya menjadi pilar lain dalam berkeluarga. Teringatlah satu ungkapan, ” Seorang isteri yang menghalang suaminya keluar berjuang, akan sentiasa memiliki suami yang senantiasa hendak keluar. Seorang isteri yang mendorong suaminya keluar berjuang, akan sentiasa menerima kepulangan suami yang sentiasa berusaha untuk pulang. Perginya suami atas dorongan isteri tuk berjuang dijalan-Nya, adalah kepergian yang dibayangi kepulangan.”..Barokalloh.. Oleh karenanya, eratlah kaitan antara mula dan akhir, bila permulaannya dimulai dengan pemahaman yang kokoh dan ke’ilmuan yang mengawali semuanya, itu akan menjadi wasilah kemudahan dan kebarokahan diakhir. Namun bila sesekali saja, diawal kita sudah berani mendurhakai Alloh, dan sudah berlaku mungkar...siapa lagi yang akan membantu?..Naudzubillah –ayo Saudaraku berpalinglah dari berkhalwat/berduaan dengan yang bukan muhrim, syetan sertakan disana. Cukuplah Alloh menjadi pijakan dalam melangkah, dan sunnahnya menjadi pegangan. Berumah tangga tidak hanya dibina dengan hamparan cinta dan kasih, akan tetapi letaknya juga pada saling mempercayai. Bila sudah berani mendurhakai Alloh, kepada siapa lagi kita meletakkan kepercayaan? ..Durhaka semalam, akan menjadi tanda untuk hari ini, esok dan selamanya... Berharap padaMu yaa Ilahi..., mekarkan selalu cinta dan kasih kepada Istriku, di dalam rumah tangga yang Insyaalloh terus dibina atas rasa penghambaan padaMu. Hamba-hambaMu yang selalu memikirkan peranan diri dalam umat, dan senang pula menebar kebaikan. Bila peranan kita tunaikan, maka tergapailah hak yang telah ditentukan. Yaa Robbi...tak putus berdo’a, moga Engkau senantiasa mengaruniakan padaku, Isteriku dan anak-anak kelak, serta keluarga besarku..dalam siraman karunia dan barokah dariMu, yang karenaNyalah kami bertemu.. Allohuma Amin... Saudaraku..., sementara -dwilogi tulisan ini dicukupkan. Ranah yang berbeda, akan mewarnai dalam tulisan berikutnya.. Pinta do’a selalu moga Istiqomah dalam menjalani ini..
Yaa Robbi Istiqomahkan kami di jalanMu..bimbinglah dalam menggapainya.. Jagalah imannya dan ’amalnya...^-^ Wudhunya tak tertinggal.. Tilawah gemarkan.. Walhamdulillah.. Wallohu’alam Al Fakir Ilalloh
lembaga sunnah peradaban (1) tertunduk syukur atas ridhoMu... jakarta, 03 Juli 2007 a. subarul nuryaqin Bismillahirrohmanirrohim.. Dah lama tak jumpa dalam blog ini, rasa rindupun ingin menyapa kembali dalam lembaran-lembaran guratan isi hati tuk tercurahkan...Yaa robbi ijinkan hambaMu tuk menyampaikan rasa syukur yang teramat padaMu, dihari-hari yang penuh dengan cita dan cinta, karena Engkau pulalah yang menghadirkannya..rasa yang nda bisa terukur dengan kata, nda bisa terdata dengan angka..Rasa itu hadir dengan sapaan jiwa yang menerima, bahagia, tentram dan terjaga pula...Yaa Robbul ’Izati ... Engkau telah hadirkan seorang bidadari bagiku, penuh teladan dan sempadan ketika melewati lorong waktu bersamanya. Shalawat serta salam moga tersampaikan kepada Rosululloh Saw, pemberi teladan..yang siapapun orang yang mengikutinya terasa begitu indah tuk diikuti, terasa hiduppun bersamanya.. Kabarnya bagaimana Saudaraku?..Moga keceriaan jiwapun senantiasa diperoleh oleh Saudara dimanapun berada. Saudaraku...kenapa saya mengambil judul seperti itu?.. Yah...itulah kata yang terungkap, kata yang membahasakan bagaimana menanamkan pondasi utuh tuk berkeluarga. Menjadi cermin bagi yang menulis ini tuk meng’amalkannya. Banyaklah orang berbicara tentang hal ini, banyak pula berpendapat tuk menggapainya.. Toyyib..Satu prinsip yang ana pegang dalam hidup, bahwa hidup itu adalah memberi, sehingga ma’na hakiki dari hidup adalah memberi, sejauh mana kita memberi, sejauh itu pula kita memberikan ma’na dalam hidup ini. Dari sana, kita bisa memandang..berkeluarga bukan untuk menerima. Berumahtangga karena ingin memberi, memberi kasih, memberi perhatian, memberi cinta, memberi nafkah, memberi teladan..Itulah semua ma’na hidup dalam berkeluarga..dan itulah peranan khusus seorang qowwam ^-^ dan juga seorang Jauzah..Emm tuk seseorang yang berada di kota gudeg ^-^ Sehingga, andai kita memperoleh kebaikan dari istri, hal itu mengundang rasa syukur, walau sekecil mana kebaikan yang diberikan, itu tetap berma’na tuk keluarga. Ana teringat benar ungkapan Ust. Indra Sakti : ”Terimalah seseorang seadanya, jangan ada apa-apanya, kebaikannya disyukuri, kekurangannya diridhoi”..Barokalloh Ustadz.. Selang tiga pekan sehabis ijab-qobul, kamipun berjarak...tak mudah memang, namun karena merasa adanya Alloh yang menjaga, maka lahir saling ridho dalam perjuangan ini. ”Bertemunya tak jemu, berpisah tak gelisah”... ... (to be continue) Emm...cukup dulu tulisan pengantar ini dimulai..biar esok ana akan lanjut lagi, tuk merangkai cita serta cinta yang bersemi ini.. Yaa Robbi Istiqomahkan kami di jalanMu..bimbinglah dalam menggapainya.. Ana Titip sesuatu yah, Jagalah imannya dan ’amalnya...^-^ Dan tak henti untuk terus belajar dan mengajar...-Ta’lim muta’alim
Rengkuh hakekat ’ilmunya disana, biar rasa senyum ini lebar menyapamu.. dan biar jundi-jundi kita kelak bangga pada umminya..kerana ’ilmu yang berbalaskan barokahnya hadir tuk ummat...Allohuma Aminn.. Walhamdulillah.. Wallohu’alam ***Al Fakir Ilalloh***
Batupun berdiam diri… Berbincang
sederhana selepas sholat shubuh… Cilandak –
Jakarta, 3 Mei 2007 as. nuryaqin
Bismillahirrohmanirrohim...
Assalamu’alaikum wahai saudaraku..
Bagaimana kabar iman dan ’amalnya? Moga Alloh senantiasa
menyelimuti dengan Rahmat-Nya serta Ridho-Nya yang selalu kita harapkan. Moga
Alloh pula terus memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat bersyukur akan
karunia-Nya. Yaa Robbi! Titip salam kepada baginda Rosululloh, muara teladan
dengan gemericik air kebeningan jiwa yang senantiasa merasuk setiap diri, yang
mau mengikutinya..
Saudaraku, biasa selepas Shubuh dari Surau..kami
berbincang sederhana, ada satu ayat yang begitu saja terucap... ayat ini akan
menjadi ’hadiah’ untuk diberikan, menjadi ’penjamin’ untuk yang diambil. Akan tetapi
...emm... beratnya minta ampun tuk diucap apalagi di’amalkan...
Ayat inilah yang tadi shubuh terucap :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.
Saudaraku…Sederhananya untuk dapat
memelihara=seiketsu itu, minimal kita harus memahami 3 kaidah
sebelumnya. Kaidah pertama, kita harus paham benar mana yang harus kita pilah
dan pilih,
‘ilmu2 mana yang diutamakan, ‘amal
yang dikembang tumbuhkan…’ilmu mana pula yang hendak disampaikan.. semua mesti
dipilih. ‘Ilmu tauhid, ‘Ilmu Al-Qur’an diutamakan, berikutnya bahasa Arab…Ini
satu contoh akan prioritas ‘ilmu yang mesti dipilih. Kaidah kedua, harus
berusaha memetakan, ‘merapihkan’
‘ilmu/’amal tadi yang telah kita lakukan dan dapatkan. Itulah kenapa banyak
orang dari kita..termasuk ana ^-^, kadang ketika kita ber’amal tidak punya
arah, dia berlari tapi entah kemana dia menuju..dia mencari ‘ilmu tapi bingung
bagaimana dan kemana ‘ilmu itu diamalkan. Nah..Saudaraku satu clue kita
dapatkan..’ilmu yang rapih, ‘amal yang teratur –tidak neko neko, maka
secara tidak langsung dia berupaya ‘adil’ terhadap ‘ilmu dan ‘amalnya..dia bisa
menyampaikan sesuai kebutuhannya, dia ber’amal hanya tertuju padaNya. Ketika
diminta pandangan dia dengan cepat dapat memberinya..karena dia tahu ‘ilmu dan
‘amalnya…yah itulah kelebihan orang yang memiliki jiwa yang ‘rapi’. Kaidah
Ketiga, Terus jaga keikhlasan, hindarkan dari riya, dengki no way, hindarkan
seluruh penyebab yang membuat diri kita kelam berselaput dosa. Yah..kuncinya
adalah ‘bersih’kan seluruh ‘ilmu
dan ‘amal kita dari perbuatan yang dapat merontokkan ‘ilmu dan ‘amal itu…basahi
selalu lisan kita dengan dzikir dan shalawat…Capelah ketika kita berbuat banyak
akan tetapi tidak diterima..Naudzubillah.
Itulah 3 (tiga) kaidah pengiringnya
diawal, moga Alloh perkenankan kita semua dapat menjadi insan yang dapat
memelihara dirinya juga keluarganya..
Berikutnya, apa
kaitan dengan batu yang berdiam?
Ternyata sempat
dalam satu kisah, Rosululloh..menyampaikan ”Tenanglah engkau, nanti akan
menjadi zamrudnya Fathimah”..semenjak itu, batu itu berdiam diri kerana
bersenang.
Kenapa? Karena
batu takut akan azab Alloh... ” yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu”.
Gimana dengan kita? Takutkah akan
azab Alloh?...Atau santai-santai aza.. Naudzubillah...Itulah beratnya
memikul amanah yang berat.
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka..(66:6)
Yaa Robbi..Bimbinglah tuk mampu meng‘amalkannya Ana Cukupkan dulu apa yang terlintas
ini…Tulisan berikutnya InsyaAlloh berbicara tentang simpul pembuka menuju 'sunnah peradaban'^-^
Alhamdulilllah..
Wallohu’allam..
Dinda..Mari
Luruskan niat! Selepas shubuh yang
cerah.. Jakarta | 26 Maret
2007 as. nuryaqin
Bismillaahirrohmannirrohiim...
Ungkapan, Alhamdulillah...adalah ungkapan rasa syukur
yang teramat padaMu Yaa Robbi!, yang telah melahirkan teladan pula kepada kita,
Baginda Rosululloh. Salam dan shalawat senantiasa tercurah padanya.
Saudaraku! Bagaimana kabar imannya? Moga Alloh senantiasa
kokohkan...
Inilah sekeping jiwa yang terpancar, dari seseorang yang
penuh harap dapat membangun mahligai rumah tangga terlebih di surgaNya kelak..Amin. ^_^, kadang hal ini muncul begitu saja, mengalir dan tidak diundang ...Emm...
Assalamu'alaikum..Dinda!
Alhamdulillah,moga Alloh senantiasa memberikan kemudahan
kepada kita, memberikan bimbingan dan ridhoNya,shalawat serta salam
tercurah kepada baginda Rosululloh saw..sampai kepada kita semua..
Dinda..
Ada beberapa anasir utama yang akan menyempurnakan
sunnah peradaban itu, tidak lain adalah [niat, ’ilmu dan
’amal] atau [iman dan ’amal sholeh.].
Unsur-unsur inilah yang akan menjadi senyawa dalam
kehidupan kita kedepan InsyaAlloh, semua terangkai dengan anasir-anasir
tersebut.
Sebutlah niat, unsur itulah yang menjadi penentu
kualitas ’amaliyah yang dilakukan, menjadi ’pengetuk pintu’ sebelum diijinkankan masuk
yang namanya rumah ’amal.
Adalah hadist yang diriwayatkan oleh HR. Muslim :
”Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan
niat-niat mereka”
Yang ana pahami ketika membaca hadist itu adalah, bukan
besar atau kecil dari ’amal yang kita lakukan, dan juga bukan itu yang menjadi
hitungannya, tapi sejauhmana kualitas niat mengawali setiap langkah yang
terayun.
Coba selami hadist berikut Dinda! ...Ana sendiri banyak
berhenti membacanya Ini diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqas Ra.
”Sesungguhnya jika
engkau memberikan nafkah maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi
yang engkau suapkan ke mulut istrimu”.
..hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke mulut istrimu
ini sedekah? Subhanalloh...Maha pemurah-Nya Alloh. Sesuatu yang mubah apabila kita lakukan dengan tujuan
hanya mengharapkan ridho Alloh akan berdampak
ketaatan...tradisi menyuapkan ke Istri menjadi pahala. Subhanalloh...Ya Robb! ijinkan kujemput ucapan
Rosul-Mu itu, karena itulah teladan dan bisa mengkokohkan. Apalagi lebih dari sana?...Ya Alloh, Kau teramat Pemurah.
Oleh karenanya, baik dan lurusnya niat menjadi wasilah untuk
mendapatkan pertolongan, semakin lurus niatnya maka pertolongan-Nya juga semakin
sempurna. Hal ini diamini oleh kisah dari Salim bin Abdullah yang pernah menulis surat
kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, nasehat sederhana memang :
”Ketahuilah bahwa pertolongan Alloh kepada hamba
tergantung kepada kadar niatnya. Barangsiapa niatnya sempurna, maka pertolongan Alloh akan
sempurna. Barangsiapa niatnya berkurang, maka pertolongan itu juga
akan berkurang”...
Syahdan, sunah peradaban juga demikian, menikah dengan
niat yang hanif, InsyaAlloh akan dimudahkan pertolongan Alloh itu hadir, ini sejalan dengan salah satu hadist yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah ra :
”Tiga orang yang selalu diberi pertolongan oleh Alloh
adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Alloh
SWT, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang nikah demi menjaga kehormatan dirinya. ”
Yaa Dinda!... kusering meminta, untuk tetap menjaga iman dan meluruskan niat!
Bukan kenapa. Karena Ana amat sangat berharap ’ibadah ini
Alloh ridhoi, tanpa itu semua apalah nilai dari sebuah sunah peradaban,
kering dan tak bermakna ...naudzhubillah..
Karena Alloh hanya
akan memberkahi sebuah keluarga yang dilandasi dengan niat yang benar :
”Siapa yang
menikahi wanita dengan niat menjaga pandangan mata, memelihara kemaluan, dan menjalin tali
silaturahim, maka Alloh akan memberkahi pasangan suami istri tersebut”.
Subhanalloh...NIAT yang benar akan menjadi wasilah dasar,
hasil apa yang
akan diperoleh. Keluarga yang memiiki niat yang lurus, kebahagianlah yang akan terengkuh, sakinah, dan
mawaddahlah yang berdatangan. InsyaAlloh wa Amin...
Dinda...Mari kita luruskan niat yah! sebelum pintu
sebelah sana itu hendak kita buka.
“Pelajarilah niat
dalam ber’amal, karena niat lebih cepat sampai kepada Alloh daripada ‘amal yang
engkau lakukan itu”... (Yahya bin Katsir)
Yaa Robbi, tak lain..hanya pada-Mulah, kami serahkan. Karena Engkaulah
pemilik dari semua urusan,
Syukron...’Ala
Ihtimamikum Jaga dhuha dan wudhunya..
Alhamdulillahhirobbil’alamin
Wallohu’alam
Seindah-indahnya perhiasan.. Diatas mejaku, Cilandak di pagi hari … Heltic city | 08-03-2007 as. nuryaqin
Bismillah..
Saudaraku.. Kabar
Ceriakan? Alhamdulillah,moga
Alloh senantiasa memberikan kemudahan kepada kita, memberikan bimbingan dan ridhoNya,shalawat
serta salam tercurah kepada baginda
Rosululloh saw..sampai kepada kita semua..
Adalah hadist yang diriwayatkan oleh HR. Muslim :
”Manusia
dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka”
Yang ana pahami ketika membaca hadist itu adalah, bukan
besar atau kecil dari ’amal yang kita lakukan, dan juga bukan itu yang menjadi
hitungannya, tapi sejauhmana kualitas niat mengawali setiap langkah yang
terayun.
Coba selami hadist berikut Saudaraku! ...Ana sendiri
banyak berhenti membacanya Ini diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqas Ra.
”Sesungguhnya jika
engkau memberikan nafkah maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi
yang engkau suapkan ke
mulut istrimu”.
..hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke mulut istrimu
ini sedekah?
Subhanalloh...Maha pemurah-Nya Alloh. Sesuatu yang mubah apabila kita lakukan dengan tujuan
hanya mengharapkan ridho Alloh akan berdampak ketaatan...tradisi menyuapkan ke
Istri menjadi pahala.
Subhanalloh...Ya Robb! ijinkan kujemput ucapan Rosul-Mu
itu, karena itulah teladan dan bisa mengkokohkan. Apalagi lebih dari sana?...Ya Alloh, Kau
teramat Pemurah.
Oleh karenanya, baik dan lurusnya niat menjadi wasilah
untuk mendapatkan pertolongan, semakin lurus niatnya maka pertolongan-Nya juga
semakin sempurna. Hal ini diamini oleh
kisah dari Salim bin Abdullah yang pernah menulis surat
kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, nasehat sederhana memang :
”Ketahuilah bahwa pertolongan Alloh kepada hamba
tergantung kepada kadar niatnya. Barangsiapa niatnya sempurna, maka pertolongan Alloh akan
sempurna. Barangsiapa niatnya berkurang, maka pertolongan itu juga
akan berkurang”...
Saudaraku..di akhir-akhir ini..Ana ingin saja bahas ini,
mengalir begitu saja, mengikuti irama jiwa...Emm..
Ditambah lagi, kemarin malam Ana membaca wasiat Rosululloh
kepada putrinya Fathimah binti Rosulillah dari salah satu tulisan.
Wasiat ini menjadi pengokoh bagi siapapun yang akan
melangkah. Penuh dengan cita dan harap ... tentunya sesuatu yang diharapkan,
jauh lebih dekat untuk terwujud, dibanding sama sekali tidak memiliki harapan..
Saudaraku inilah 10 wasiat Rosululloh :
- Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk
suami dan anak2nya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari
setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
- Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika
menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan
dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
- Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut
anak-anaknyanya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah
akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu org
yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
- Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan
tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar
pada hari kiamat nanti.
- Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan
di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak
ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai
Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
- Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka
malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap
hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa
sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala
para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka
bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan
ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa
sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan
bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan
pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu
malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
- Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami
selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah
mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat
berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada
tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus
kali beribadah haji dan umrah.
- Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di
hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
- Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas
tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang
memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya,
dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
- Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala
suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta
memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah
kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai sorga. Allah mempermudah
sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga.
Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi
shirathal-mustaqim dengan selamat.
Saudaraku..cukup saja dulu sapaanku dipagi hari ini.
InsyaAlloh..kedepan kita berjumpa lagi.
Jaga tilawahnya dan ql Serta tebar salamnya ...
Walhamdulillahhirobbil’alamin..
Wallohu’alam..
‘Rumah Cinta’
ada disini… Diiringi
kicauan burung, hujanpun gerimis Yaa Robbi
jadikan cita dan harap ini berwujud... Jakarta |
07-03-2007 as. nuryaqin
Bismillah..
Alhamdulillah, bagaimana kabarnya Saudaraku?
Moga sehatlah diperoleh, keni’matan Iman dan Islam
menjadi bahasa kita keseharian, Yaa Robbi jadikan kami menjadi ahli syukur
pada-Mu. Sampaikan salam pula pada Rosululloh teladan kami,
sampai kepada kita semua..
Ternyata kerinduan itu senantiasa tiba, meskipun
tidak diundang.. Saudaraku, kata ‘Rumah Cinta’ saya peroleh dari majalah
Hidayatullah dalam kolom ‘Ibroh. Mas Abdurrahman!, saya minta ijin yah
mengambil katanya... Kenapa ini menjadi menarik? Seperti yang lain, sesuatu
yang diharap, biasanya sesuatu yang terbaik ingin didapat, sesuatu yang didamba
adalah cita-cita yang hendak diraih. Inipun tidak berbeda...menghadirkan Rumah
Cinta kedepan..Emm..
Memang untuk mewujudkannya, mesti dilalui dengan ikhtiar
yang sungguh, mulai dari niat yang hanif (lurus), memilih pasangan yang terbaik,
ta’aruf yang visioner, khitbah sampai pada ’akad. Itu adalah ikhtiar yang berat
untuk dilalui, kenapa? karena itu adalah usaha awal menuju tujuan yang hakiki
pertemuan di Surga atas RidhoNya bersama dengan keluarga..duh pinginnya. InsyaAlloh...
Awal yang baik akan memberikan jalan baik pula kedepan, Bila dimulai dengan hal
yang tidak baik, maka khawatir tak baik pula diperoleh saat perjalanan hendak
dikayuh.
Saudaraku..persiapkan perbekalan dengan baik,
niat,’ilmu,’amal tentunya diantara itu semua, hanya taqwa yang menjadi
perbekalan utama, setelah perbekalan lain tidak mampu lagi membantu, karena itulah
sebaik-baiknya bekal, coba :
... وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى...
Berbekallah, dan sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa (Al-Baqoroh: 197)
Saudaraku, sebuah harapan telah lahir dalam serambi Rumah Cinta :
Rumah Cinta :
- Rumah yang
memiliki pondasi, dengan landasan dien, tiangnya adalah
keteladanan, dindingnya adalah lirihan do’a, atapnya itu adalah hubb-Cinta,
Jendelanya adalah saling memahami, sering bercengkrama, pintunya adalah
Sabar dan Syukur, pagarnya adalah jihad dan ikhtiar.
- Rumah yang
menjadi madrasah, tempat didalamnya gemuruh senandung Al-Qur’an
dilantunkan, dzikir dan sholat menyelimuti suasana keluarga. Rumah yang
dilandasi dengan ’ilmu dan pemahaman. Serta dizakatinya dengan ber’amal. ”Barangsiapa
yang memuliakan Al-Qur’an maka Alloh akan memuliakannya”
- Rumah yang
senantiasa penghuninya saling berbagi dan mengisi serta mengasah diri
untuk menjadi mu’min yang sejati. Rumah dengan iringan perjuangan saling
membangun dan menutupi kekurangan. Karena perjuangan itu adalah bekal
pengokoh diantaranya.
- Rumah tempat
saling menasehati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. (Al-’Ashr).
- Bacaan
dominan di rumah
itu adalah bacaan yang meninggikan asma Alloh, tidak ada yang saling
umpatan, saling dengki, kata-kata kotor, keluh kesah, nada sombong dan
bangga diri. Kenapa? Karena mereka telah menjadi kelurganya Alloh.
- Dentingan
gelas setiap hari menyapa, karena rumahnya selalu didatangi tamu untuk
dijamu.
- Rumah yang
dihuni oleh seorang suami yang ta’at beragama, pintar dalam memandu
biduknya keluarga, dia seorang qowwam sejati, yang membela bila
keluarganya terganggu, menganyomi dengan untaian kasih sayang. Yang
membawa semua ’awaknya’ menuju Jannah-Nya. Sehingga yang ia harapkan
adalah pertemuannya kembali di surga Nya kelak. Amin..Yaa Robb!!
- Rumah yang
berdiri dengan senyuman seorang isteri yang sholehah, penenang jiwa, hati
pilupun larut karena memandangnya, dia yang ta’at pada suaminya, menjaga
kehormatan suami, yang juga menjaga hartanya. Ridho suamilah yang menjadi
landasan dalam ber’amal. Karena ridhonya Alloh adalah ridho suaminya...Dia
menjadi ’Madrasatul ’ummah’ –madrasahnya keluarga. Dia yang
menemani suaminya menuju surgaNya. Amin..Summa Amin
- Rumah yang
memiliki anak-anak penyejuk pandangan, yang menjadi cahaya yang
mencahayakan, yang selalu mendo’akan Abi dan Umminya. Penerus cita dan
harap keluarga untuk menjadi ’keluarga taqwa’. Yang dia ikhlas ketika Abi
dan Umminya tiada dengan senantiasa meneruskan sunnah hasanahnya
–kebiasaan baik orang tua. Anak-anak yang kelak menjadi hamba-hambaNya
yang senantiasa bersyukur dan bersabar. Serta anak-anak yang menjadi
pemimpinnya orang-orang taqwa.
- Rumah seperti
itu.... menjadi replikanya ’rumah akhirat’
Sesuatu yang ada, dan bisa diwujudkan atas bimbinganNya. Satu
hal Saudaraku..mari luruskan niat diawal, dan bersungguh-sungguhlah dalam
ber’amal.
Mari kita sambut...untuk mewujudkannya.
Emm.. Saudaraku, Cukup saja dulu hari ini. InsyaAlloh, Esok kita jumpa lagi...
Salam untuk semua, Jaga dhuhamu, tilawahnya Serta wudhu tak ketinggalan...
Walhamdulillahhirobbil’alamin.. Wallohu’alam..
| |