andri subarul 's posts with tag: serial 'ulama

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag serial 'ulama
Posted by andri subarul on Dec 18, '06 2:42 AM for everyone

BIAR KELEMBUTAN MENYELIMUTI
Pertemuan singkat bersama (Alm) Al-Ustadz Engkin Z. Muttaqien
Rumah Iqro | Andri Subarul Nuryaqin



Sebuah tempat…
Dibilangan Gegerkalong

Pertemuan singkat dibilang, karena memang ini sebuah cara kita bertegur sapa dan bersua. Sebuah tempat untuk bertemu ucap dan menyusun pembicaraan. Tidaklah kita temui sebuah kebahagiaan dan ketentraman sebelum kita mencurahkan perhatian kita kepada saudara kita yang diajak kita bicara, sebuah nilai kekeluargaan yang tidak bisa terbeli, nilai ukhuwah islamiyah tertinggi. Kita membutuhkannya, dan saudara kita pula juga demikian. Inilah cara kita bertemu dan menyapa, karena kita sadari tanpa hidup bersama, kehidupan menyendiri adalah kekeliruaan yang nyata, yang tidak Rosul titahkan ke kita. Rugilah bila kesendirian menjadi pilihan...

Ingatlah kita dalam satu ayat dalam Al-Qur’an :

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (49/10).

Pertemuan-pertemuan singkat ini, ternyata membuat kita banyak belajar, banyak mengambil pelajaran pula, lambat laun menjadi nilai dan karakter yang menyatu, menjadi ‘character cycle’ dari dari kita. Pertemuan itulah, yang membuat kita menjadi sekarang. Benar, akan hakekat dari waktu yang mereka curahkan dalam menyampaikan ‘ilmu, berdakwah, membina masyarakat, membangun peradaban, tanpa melupakan pembangunan diri mereka serta keluarganya sebagai landasan awal.

Cukuplah kita buat pengantar untuk serial guru ini, sebuah bukti, kita sebagai murid-murid yang dhaif hanya bisa mengikuti sejauh kita mampu. Menimba ‘ilmu semampu raga ini melangkah, mengejar kepahaman sejauh diri ini mampu mengejarnya. Namun kita menyaksikan jiwa kita ini besar, cita-cita kita agung, dan harap-cita kita menjulang tinggi di angkasa.

Adalah Ustadz. (alm) DR.K.H. Engkin Zainal Muttaqien, Ust. Lahir 4 Juli 1925, sempat mampir menjadi Rektor UNISBA 1972-1985, dan juga pernah diberi amanah menjadi ketua MUI Jawabarat. Kang Engkin, panggilan akrabnya, bertemu dengan beliau, adalah asa syukur yang teramat besar, kita selalu ingat keteduhan dan kelembutan bicaranya, kesantunan tutur ucap katanya, penghayatan yang mendalam serta senyuman yang tersungging kecil melengkapi pertemuan saat itu. Layaknya murid dengan gurunya, pertemuan itu, saatnya menyampaikan keluh kesah, pikiran berat, langkah yang terdiam, entahlah bawaanya ingin mencurahkan semua masalah yang menghapiri kita ini. Akhirnya terucaplah dari bibir ini permalahan satu per satu, Kang Engkin mendengarkan dengan perhatian penuh, bak seorang ibu dengan anaknya. Terdiam dan tersemyum kemudian. Kang Engkin, menyampaikan nasehatnya, kita diminta untuk [1]. Memperteguh keimanan [2] Jadikan taqwa itu sebaik-baiknya bekal [3] Teraturlah kita dalam setiap langkah [4] Ciptakan lingkungan yang baik [5] Perkuat dzikir dan do’a [6] Tak lupakan tobat kepada Allah [7] Berjiwalah optimis [8] Perluaslah wawasan [9] Teladani Rosululloh sepenuhnya. Itulah nasehatnya. Subhanallah...Syukron yaa Ustadz!

Ustadz, yang senantiasa Tawadhu, seringlah pula mampir ketempat ‘tafakur’-menyendiri, tempat berkeliling besi -setelah Soekarno memarahinya di Istana, karena dianggapnya, dialah yang mengajarkan, agar para pemuda menjadi ‘pengkritik-pengkritik’ negara hanya itu, akan tetapi tidak hilanglah ghiroh-cemburu kepada Al-Islam, agama yang Kang Engkin Imani, beliau senantiasa membela dan membangunnya. Beliau senantiasa hidup bersama dengannya-Al-Islam. Tibalah kepada permasalah berikutnya, kita ingat Rosululloh menikah pada umur 25 tahun, sehingga permasalah tidaklah jauh dari persamalahan demikian. Ustadz, dengan lembut menyentuh bashiroh kita, kita diingatkan akan perlunya persiapan dalam sikap, itulah yang menjadi modal dasar, Ustadz melanjutkan. Sebaiknya kita memiliki ‘ilmu yang utuh, hingga kita dapat [1] Menyayangi Istri [2] Menyayangi anak-anak kita [3] Menghormati ayah-bundanya [4] Berbaikan dengan tetangga [5] Tidak menyakiti istri [6] Tidak sembunyi-sembunyi, jelaslah semua [7] Perkokoh idealisme, karena itu energi kita melangkah [8] Dan inilah yang terpenting, menghamparkan sehelai sajadah. Ustadz mengingatkan, janganlah lupa pula akan Asas dari berumahtangga itu yaitu hanya untuk ‘ibadah Illalloh hanya itu jangan dibuat bumbu lagi, sehingga tambah gurih ternyata tidak. Ittiba’ dalam beribadah akan melahirkan cinta dan kasih sayang, setelah terwujud terbitlah rahmah, inilah puncak segalanya. Kang Engkin bilang, meskipun diatara kita, salah satunya meninggal, yang terbayang kebaikan demi kebaikan, merasa kehilangan yang sangat. Itulah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (30/21)

Tujuan berumah tangga tidak lain memperoleh sakinah (ketentraman hidup), entahlah kita berpikir mau kemana lagi tujuan itu berlabuh, kalau selain dari itu, terbenamlah akhirnya, apa yang hendak dikejar harta, jabatan, kecantikan semata, punahlah itu semua. Yang tinggal adalah balutan kasih sayang yang dilandasi dengan iman dan taqwa, teladan dan anak-cucu yang sholeh sholehah, masyarakat yang menghadiri shalat berjama’ah di masjid, mengikuti dan rindu akan pengajian, itulah yang menjadi tempat berlabuhnya terakhir dan utama, hati dan jiwa ini. Kita diingatkan, ingatlah!, jangan terlupakan oleh kita, persyaratan awal semuanya , bermula dari ad-diin­-nya,

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (60/10).


Yang berikutnya Kafa’ah- kesetimbangan, jangan pula dua orang itu antara langit dan bumi, antara hujan dan tidak, antara semut -naml dan gajah –fiil, perbedaannya begitu terasa. Seimbanglah sehingga pembicaraan begitu terasa bersambung, ketika berkeluh kesah, salinglah mengisi kekosongan, ketika bercengkrama saling bertukar hikmah. Ketika berucap salam, terlihatlah pipi merahnya sambil berucap do’a. Itulah asa keseimbangan. Saling memahami dan bahu-membahu.

Paling tidak, kita bisa ambil simpulnya. Cita-cita hidup kita, membangun : [1] diri/anak yang sholeh (rajin belajar, ibadah yang tekun, kerja rajin, sandaran hanya kepada Allah, perhatian kepada ummat) [2] Keluarga/Istri yang sakinah, [3] Masyarakat yang adil, [4] Bangsa yang Baldatun Toyyibatun Warahmahmatun Waghofur. Cukuplah itu. Meskipun kita 1/200 Juta penduduk Indonesia ini, tapi kita bisa ambil, yang ada ditangan kita, menjadi pelangkap untuk semua. ”It makes a difference to this one”, usaha kita akan ada artinya bagi yang satu ini-”ditangan”.

Tak terasa saat itu, waktu Dzuhur akan tiba, kita berusaha minta Kang Engkin memberi tausyiah –kecil, namun sulit untuk dilupakan, sederhana tapi menghujam dalam diri, kecil tapi syarat dengan makna :

Allah-pun berucap, seperti Kang Engkin sampaikan Tausyiahnya :

...Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (103/3).

Orang-orang banyak merugi, kecuali bila kita mau beriman (ingat selalu), beramal sholeh (tidak sia-sia hidup ini), nasehat-menasehati guna taat kebenaran (daya pemasaran dan negosiasi) dan nasehat-menasehati guna menetapi kesabaran (kepekaan sosial). Pertemuan itu terasa singkat, hati ini hadir juga tuk mendo’akan sang Ustadz, semoga ’amal dan ’ilmunya senantiasa dilanjutkan oleh murid-muridnya yang sholeh-sholehan, serta Allah sandingkan dengan para Shodiiqin dan Sholihiin di Surga. Allhummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wafuanhu.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help